Keir Starmer Mundur: PM Inggris Tersingkir Kurang dari Dua Tahun
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan pengunduran diri setelah masa jabatan singkat yang diwarnai kebijakan kontroversial dan tingkat kepuasan publik yang rendah.
- Starmer akan tetap menjabat hingga penggantinya terpilih dalam proses suksesi kepemimpinan Partai Buruh yang dijadwalkan selesai September 2026.
- Kekacauan politik di Inggris berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi global, termasuk hubungan dagang dengan Indonesia yang tengah menjajaki perjanjian perdagangan baru.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer secara mengejutkan mengumumkan pengunduran dirinya pada Senin (22/6) setelah menjabat kurang dari dua tahun, menandai salah satu masa kepemimpinan terpendek dalam sejarah politik Inggris modern. Dalam pidato emosional di depan kediaman resminya di 10 Downing Street, Starmer menyebut keputusannya didasari oleh prioritas untuk menempatkan kepentingan negara di atas segalanya.
"Setiap keputusan yang saya ambil selalu tentang mendahulukan negara yang saya cintai. Itulah sebabnya saya akan mundur sebagai pemimpin Partai Buruh," ujar Starmer dengan suara bergetar. Ia mengakui bahwa masa jabatannya diwarnai oleh berbagai perubahan kebijakan yang membingungkan dan ketidakpopuleran yang mendalam di kalangan publik. Survei opini terbaru menunjukkan tingkat kepuasan terhadap kinerjanya anjlok di bawah 20 persen, terendah bagi seorang perdana menteri sejak era John Major di tahun 1990-an.
Proses suksesi kepemimpinan Partai Buruh akan dimulai pada Juli mendatang, dengan target pemimpin baru terpilih pada September. Starmer akan tetap menjabat sebagai perdana menteri sampai penggantinya ditunjuk, memastikan transisi kekuasaan yang tertib. Namun, kekosongan kepemimpinan ini memicu ketidakpastian politik di Inggris, yang tengah bergulat dengan inflasi tinggi, krisis biaya hidup, dan negosiasi pasca-Brexit yang masih alot.
Konteks Indonesia: Stabilitas politik Inggris memiliki dampak langsung terhadap hubungan bilateral, terutama dalam perdagangan dan investasi. Indonesia saat ini tengah menjajaki perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif (CEPA) dengan Inggris, yang ditargetkan selesai tahun depan. Ketidakpastian politik di London dapat memperlambat negosiasi dan menunda realisasi investasi Inggris di sektor infrastruktur dan energi hijau Indonesia. Selain itu, Inggris merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia di Eropa, dengan nilai perdagangan bilateral mencapai lebih dari £3 miliar pada 2025.
Menurut analis politik dari Chatham House, pengunduran diri Starmer mencerminkan krisis kepercayaan yang lebih luas terhadap partai-partai arus utama di Inggris. "Partai Buruh gagal mempertahankan koalisi pemilih yang membawa mereka menang pada 2024. Kebijakan yang plin-plan dan skandal internal membuat publik frustrasi," ujar seorang pengamat. Sementara itu, Partai Konservatif yang kini menjadi oposisi melihat peluang untuk kembali berkuasa, meskipun mereka juga tengah bergulat dengan perpecahan internal.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pemimpin baru Partai Buruh mampu memulihkan kepercayaan publik dan membawa stabilitas politik yang sangat dibutuhkan Inggris. Atau, justru pemilu dadakan akan digelar lebih cepat dari jadwal, memperpanjang ketidakpastian yang juga berimbas pada mitra dagang seperti Indonesia.



