UEFA Tegaskan Boikot Piala Dunia, FIFA Gagal Redam Krisis Kepemimpinan
Baca dalam 60 detik
- UEFA menyatakan dua syarat utamanya untuk kembali ke kompetisi FIFA belum terpenuhi, sehingga komitmen boikot Piala Dunia tetap berlaku.
- Dukungan terhadap Gianni Infantino semakin tergerus setelah Inggris, Albania, dan Yordania secara resmi menarik dukungannya.
- Krisis ini menyoroti lemahnya tata kelola FIFA dan berpotensi memengaruhi solidaritas sepak bola global menjelang pemilihan presiden 2026.

Krisis kepemimpinan di FIFA belum juga mereda. UEFA, sebagai induk sepak bola Eropa, menegaskan kembali sikapnya untuk memboikot Piala Dunia, menyusul kegagalan FIFA dalam memenuhi tuntutan reformasi yang diajukan. Sikap ini muncul di tengah upaya FIFA untuk meredam gejolak internal yang dipicu oleh rencana kontroversial penjualan hak komersial Piala Dunia.
Dalam pernyataan resminya, UEFA menegaskan bahwa dua syarat utama untuk kembali berpartisipasi dalam kompetisi FIFA belum terpenuhi. Pertama, pencabutan proposal penjualan kompetisi besar, dan kedua, jaminan bahwa upaya serupa untuk 'merusak' sepak bola tidak akan terulang. UEFA juga menegaskan bahwa kepercayaan terhadap kepemimpinan Gianni Infantino telah hilang, dan posisi itu tidak berubah meskipun ada dukungan dari internal FIFA.
Krisis ini bermula dari rencana FIFA untuk menjual sebagian hak komersial Piala Dunia, yang memicu kemarahan sejumlah federasi nasional. Mereka merasa dikesampingkan dalam pengambilan keputusan strategis. FIFA akhirnya meminta maaf dan berjanji untuk meninjau kembali proses yang menyebabkan kontroversi ini. Namun, langkah tersebut dinilai belum cukup untuk memulihkan kepercayaan.
Konfederasi sepak bola Amerika Selatan, CONMEBOL, juga menyuarakan keprihatinan atas tindakan sepihak yang dilakukan tanpa dialog. Mereka menekankan pentingnya mekanisme institusional yang telah dibangun untuk menjaga transparansi. Sementara itu, serikat pemain FIFPRO menyebut proposal yang dinegosiasikan di balik layar itu sebagai 'penyalahgunaan kekuasaan presiden' yang mendalam.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi yang signifikan. Sebagai salah satu negara dengan basis penggemar sepak bola terbesar di dunia, Indonesia berkepentingan terhadap tata kelola FIFA yang bersih dan transparan. Dukungan terhadap Infantino dari banyak asosiasi kecil, terutama di Afrika dan Asia, menunjukkan bahwa dana pembangunan FIFA masih menjadi tulang punggung program sepak bola nasional. Namun, krisis ini menggarisbawahi perlunya reformasi yang lebih mendalam agar kepentingan semua pihak, termasuk negara berkembang, dapat terwakili.
FIFA sendiri membantah adanya pelanggaran tata kelola dan menegaskan bahwa semua tindakan telah sesuai regulasi. Mereka menganggap kesalahan yang terjadi hanya pada proses dan komunikasi, bukan pada aturan. Namun, FIFPRO menilai bahwa jika benar demikian, itu justru menjadi dakwaan terhadap kerangka tata kelola FIFA yang ada.
Di tengah tekanan ini, Infantino masih terlihat aman secara politik. Tidak ada penantang yang kredibel muncul menjelang pemilihan presiden. Dukungan dari federasi-federasi kecil, terutama di Afrika dan Asia, tetap kuat. Namun, dengan semakin banyaknya negara yang menarik dukungan, pertanyaannya adalah: apakah Infantino mampu bertahan menghadapi gelombang kritik ini, atau justru krisis ini akan menjadi awal dari perubahan besar dalam sepak bola dunia?



