Dicky Kurniawan Kembali ke Persebaya: Misi Menuntaskan Mimpi yang Tertunda
Baca dalam 60 detik
- Gelandang asli Surabaya, Dicky Kurniawan, resmi kembali ke Persebaya setelah menimba pengalaman di klub lain.
- Kepulangannya bukan sekadar transfer, melainkan panggilan hati untuk menyelesaikan ambisi yang belum tercapai saat masih muda.
- Dengan catatan 2 gol dan 6 assist musim lalu, Dicky diharapkan menjadi motor serangan baru Bajul Ijo di Super League 2026/2027.

Persebaya Surabaya resmi mendatangkan kembali gelandang asli Kota Pahlawan, Dicky Kurniawan Arifin, sebagai bagian dari lima rekrutan anyar untuk menghadapi Super League 2026/2027. Kepulangan pemain berusia 23 tahun itu bukan sekadar perpindahan klub, melainkan misi pribadi untuk menuntaskan mimpi yang sempat tertunda sejak ia meninggalkan Bajul Ijo beberapa tahun lalu.
Dicky bukan wajah baru di skuad Persebaya. Ia memulai karier di akademi Assyabaab (2007–2014) dan Bintang Timur Surabaya (hingga 2018) sebelum akhirnya menembus tim U-17 Persebaya. Puncaknya, pada 2018 ia menjadi bagian tim U-16 yang menjuarai Piala Soeratin di Blitar dan dinobatkan sebagai pemain terbaik turnamen. Prestasi itu membawanya promosi ke tim senior pada Maret 2021 bersama Marselino Ferdinan. Namun, demi menit bermain lebih banyak, Dicky memutuskan merantau ke klub lain.
Kini, setelah melalui perjalanan panjang dan mengumpulkan pengalaman di level profesional, ia kembali ke Surabaya dengan status pemain senior. “Saya sangat bangga dan bahagia. Begitu mendapat kabar, orang pertama yang saya hubungi adalah keluarga. Setelah itu saya langsung mantap menerima tawaran ini,” ujar Dicky dalam sesi perkenalan resmi. Keputusan itu juga mendapat restu penuh dari sang ayah, yang menjadi orang pertama diajak berdiskusi. “Beliau meminta saya kembali ke Persebaya,” tambahnya.
Musim lalu, performa Dicky cukup impresif. Dalam 21 pertandingan Super League, ia mencatatkan dua gol dan enam assist—buah dari perkembangan kemampuannya dalam mengatur ritme permainan dan membantu serangan. Statistik itu menjadi modal berharga bagi Persebaya yang tengah membangun skuad kompetitif untuk musim depan. Pelatih Bajul Ijo diperkirakan akan memanfaatkan fleksibilitas Dicky sebagai gelandang serang atau sayap kiri.
Bagi Dicky, Persebaya bukan sekadar klub. “Di sini saya tidak hanya berkembang sebagai pemain, tetapi juga merasakan kebersamaan seperti keluarga. Itu yang membuat klub ini selalu spesial,” ungkapnya. Ikatan emosional itulah yang membuatnya tak ragu kembali ketika tawaran datang. Ia mengaku masih memiliki mimpi yang belum tuntas—mengulang sukses di level junior, kali ini bersama tim utama. “Saya berharap bisa mengulang kesuksesan yang pernah dirasakan saat di kelompok usia muda, bahkan dengan pencapaian yang lebih besar,” tegasnya.
Kepulangan Dicky juga menjadi sinyal bahwa Persebaya serius membangun tim dengan mengombinasikan pemain muda potensial dan pengalaman. Dengan fondasi akademi yang kuat, klub berharap dapat bersaing di papan atas Super League. Pertanyaannya, mampukah Dicky menjadi katalisator kebangkitan Persebaya dan mewujudkan ambisi yang sempat tertunda? Jawabannya akan terlihat saat kompetisi bergulir.



