Panda Bond dan Strategi Lepas dari Dominasi Dolar: Purbaya Buka Suara soal Pihak yang Tak Suka
Baca dalam 60 detik
- Penerbitan Panda Bond berdenominasi yuan akan menggunakan skema Local Currency Transaction (LCT) untuk memotong ketergantungan pada dolar AS.
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui langkah ini memicu resistensi dari pihak tertentu, namun dianggap perlu demi stabilitas rupiah.
- Diversifikasi basis mata uang obligasi pemerintah ke yuan dinilai strategis mengingat posisi China sebagai ekonomi terbesar kedua dan adanya swap bilateral.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa penerbitan Panda Bond—surat utang pemerintah yang didenominasi yuan China—akan menjadi instrumen penting dalam memperkuat nilai tukar rupiah. Langkah ini, menurutnya, tidak hanya sekadar menambah variasi portofolio utang, tetapi juga merupakan upaya sistematis untuk mengurangi tekanan dolar Amerika Serikat terhadap mata uang Garuda.
Dalam rapat kerja dengan Komite IV DPD RI di Jakarta, Senin (22/6/2026), Purbaya menjelaskan bahwa skema yang akan digunakan adalah Local Currency Transaction (LCT). Artinya, transaksi pembayaran obligasi dilakukan langsung dalam yuan dan rupiah tanpa melalui konversi ke dolar AS. "Pokoknya saya terima rupiah, jadi saya tidak terpengaruh fluktuasi atau tekanan dari dolar," ujarnya.
Meski optimistis, Purbaya tidak menampik bahwa kebijakan ini menuai resistensi. "Mungkin ada yang enggak suka, tapi biar saja. Sebelah sana pasti enggak suka, ya biar saja biar seimbang," tegasnya. Pernyataan ini mengindikasikan adanya pihak-pihak yang diuntungkan oleh dominasi dolar dalam pasar obligasi global—baik dari kalangan investor, lembaga keuangan, maupun negara tertentu—yang mungkin merasa terancam dengan diversifikasi ini.
Purbaya menekankan bahwa Panda Bond bukanlah sekadar instrumen pembiayaan, melainkan bagian dari strategi besar diversifikasi basis mata uang utang pemerintah. Selama ini, mayoritas obligasi pemerintah Indonesia masih terikat dengan dolar AS, membuat rupiah rentan terhadap gejolak nilai tukar greenback. Dengan beralih ke yuan, Indonesia berharap dapat menciptakan "bantalan" yang lebih kokoh terhadap fluktuasi global.
Langkah ini juga sejalan dengan tren global di mana sejumlah negara mulai mengurangi ketergantungan pada dolar sebagai mata uang cadangan. China sendiri gencar mendorong internasionalisasi yuan melalui berbagai skema bilateral, termasuk perjanjian swap dengan bank sentral negara mitra. Bank Indonesia telah memiliki kerja sama LCT dengan People's Bank of China, yang memungkinkan penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi langsung dalam mata uang lokal.
Bagi investor Indonesia, implikasi dari kebijakan ini cukup signifikan. Diversifikasi utang ke yuan dapat mengurangi risiko nilai tukar yang selama ini membebani imbal hasil obligasi rupiah. Di sisi lain, investor asing yang selama ini bermain di pasar obligasi dolar mungkin perlu menyesuaikan strategi, terutama jika volume Panda Bond meningkat secara substansial.
Purbaya mengakui bahwa resistensi dari pihak tertentu adalah hal yang wajar. "Jangan dolar base saja, tapi ke yuan base kan sama besarnya itu negara kan, dia kedua terbesar di dunia," katanya. Dengan volume ekonomi China yang sebanding dengan AS, diversifikasi ke yuan dinilai sebagai langkah rasional untuk mengurangi kerentanan terhadap tekanan eksternal.
Ke depan, efektivitas Panda Bond dalam menstabilkan rupiah akan sangat bergantung pada seberapa besar permintaan investor terhadap obligasi ini dan sejauh mana skema LCT dapat diimplementasikan secara konsisten. Apakah langkah ini akan diikuti dengan instrumen serupa dalam mata uang lain, seperti yen atau euro? Atau justru akan memicu rebalancing portofolio global yang lebih luas? Pertanyaan-pertanyaan ini masih menunggu jawaban dari dinamika pasar ke depan.



