Singapura Tambah 300 Mesin Daur Ulang Botol: Target 80 Persen Sampai 2029
Baca dalam 60 detik
- BCRS Ltd akan menambah 300 mesin pengembalian kemasan minuman di luar zona awal, menjangkau kampus, asrama pekerja, dan kawasan wisata.
- Sejak April, 5,5 juta kontainer bekas telah dikumpulkan, dengan tingkat pengembalian mingguan rata-rata naik dari 2,8 menjadi 5,9 per orang.
- Skema ini menargetkan tingkat pengembalian 60 persen pada tahun pertama dan 80 persen pada 2029, dengan semua produk wajib bermerek deposit mulai Oktober.

Pemerintah Singapura melalui operator skema nasional BCRS Ltd akan menambah 300 mesin penukaran botol minuman bekas di luar area awal, menyasar kampus, asrama pekerja, kawasan industri, pusat rekreasi, dan tempat wisata. Langkah ini diambil untuk mendongkrak partisipasi publik dalam program daur ulang yang menargetkan 80 persen tingkat pengembalian pada 2029.
Sejak diluncurkan pada 1 April, sebanyak 1.200 mesin telah terpasang, terdiri dari 1.070 unit yang beroperasi sejak awal dan 130 unit tambahan pada masa transisi. BCRS Ltd, konsorsium nirlaba yang dibentuk oleh produsen minuman seperti Coca-Cola Singapore Beverages, F&N Foods, dan Pokka, menyatakan akan menggandakan jumlah titik pengembalian secara bertahap dalam tahun pertama. Saat ini, lebih dari 90 persen rumah tangga HDB berada dalam jarak lima menit berjalan kaki dari mesin.
Data terbaru menunjukkan 5,5 juta kontainer kosong telah terkumpul dengan lebih dari satu juta transaksi sukses. Menteri Senior Negara untuk Keberlanjutan dan Lingkungan, Janil Puthucheary, memperkirakan angka ini akan terus meningkat seiring masuknya lebih banyak produk berlabel BCRS ke pasar. Target awal yang ditetapkan Badan Lingkungan Nasional (NEA) adalah 60 persen kontainer kembali untuk didaur ulang pada tahun pertama, dan naik menjadi 80 persen pada 2029.
BCRS Ltd mengakui masih ada pekerjaan rumah, terutama dalam hal edukasi dan kenyamanan pengguna. Rata-rata pengembalian mingguan naik dari 2,8 kontainer per orang pada April menjadi 5,9 kontainer saat ini, dengan komposisi 55 persen plastik dan 45 persen logam. Untuk meningkatkan pengalaman, perusahaan telah memperbarui antarmuka mesin, memperpanjang waktu refund, dan menambah sinyal audio. "Kami menerapkan pembelajaran dari operasi awal untuk mengurangi kesalahan mesin, mengkalibrasi ulang pengenalan kontainer, dan memperbaiki proses pengembalian dana," ujar juru bicara BCRS Ltd.
Skema ini juga menyentuh kelompok rentan. Sebanyak 12 lokakarya dengan Green Nudge di pusat aktifitas senior telah menjangkau 430 lansia, dengan 97 persen mengaku proses pengembalian mudah, dan 100 persen mampu mengidentifikasi kontainer yang memenuhi syarat. Rencananya, lokakarya akan diperluas ke 40 pusat lansia lagi. Selain itu, 400 roadshow di supermarket akan digelar mulai Agustus, dengan "Return Right buddies" yang siap membantu pengunjung.
Bagi Indonesia, skema ini relevan sebagai contoh kebijakan ekonomi sirkular. Meski Indonesia belum memiliki skema serupa, beberapa kota seperti Bali dan Jakarta mulai menjajaki sistem deposit untuk sampah kemasan. Pengalaman Singapura menunjukkan pentingnya infrastruktur yang mudah diakses dan edukasi publik. Namun, tantangan terbesar adalah mengubah perilaku konsumen dan memastikan kepatuhan produsen, yang di Singapura diwajibkan menandai produk mereka mulai Oktober. Pertanyaannya, mampukah Indonesia mengadopsi model serupa dengan kondisi geografis dan sosial yang lebih kompleks?



