Debut Les Kiss Bersama Wallabies: Ujian Berat di Osaka Lawan Jepang Asuhan Eddie Jones
Baca dalam 60 detik
- Les Kiss memulai era baru sebagai pelatih Australia dalam laga uji coba melawan Jepang di Osaka, dengan misi membangun tim menuju Piala Dunia 2027 di kandang sendiri.
- Australia membawa rekor tak terkalahkan atas Jepang, tetapi kondisi panas dan lembap di Osaka serta kekuatan Jepang yang meningkat menjadi ancaman nyata.
- Dua laga seri ini menjadi tolak ukur awal Kiss, sekaligus ajang pembuktian melawan Eddie Jones yang pernah meninggalkan Wallabies dengan hubungan yang retak.

Melbourne, 6 Agustus โ Les Kiss resmi memulai tugasnya sebagai pelatih kepala Australia saat timnya menghadapi Jepang di Osaka, Sabtu (7/8). Laga ini bukan sekadar uji coba biasa; ia menjadi panggung pertama Kiss dalam membangun Wallabies yang diharapkan tampil kompetitif di Piala Dunia 2027 yang akan digelar di tanah Australia.
Kiss, yang sebelumnya menangani Queensland Reds, mewarisi tim yang baru saja menutup era Joe Schmidt dengan kemenangan telak 57-10 atas Italia di Perth. Namun, di balik hasil manis itu, Australia sempat terpuruk dengan enam kekalahan beruntun, termasuk dua kekalahan kandang dari Irlandia dan Prancis pada Nations Championship bulan lalu. Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Kiss untuk mengembalikan konsistensi Wallabies di level tertinggi.
Jepang, yang kini dilatih oleh Eddie Jonesโmantan pelatih Australia yang hengkang dengan cara tidak harmonis pada 2023โbukan lawan yang bisa diremehkan. Peringkat 10 dunia, hanya dua tingkat di bawah Australia, dan skuad mereka kini diperkuat sejumlah pemain berdarah Australia seperti Warner Dearns, Harry Hockings, Jack Cornelsen, dan Ben Gunter. Kehadiran mereka memberi warna Australasia yang kuat pada permainan Jepang.
Pertandingan di Hanazono Rugby Stadium diprediksi berlangsung dalam kondisi panas dan lembap, bahkan berpotensi hujan, mengingat gelombang panas ekstrem melanda Asia Timur. Kiss pun menyiapkan strategi dengan menurunkan skuad utama, namun tetap menyimpan sejumlah pemain berpengalaman di bangku cadangan untuk menjaga stamina tim. Rookie flyhalf Declan Meredith kembali dipercaya mengisi nomor 10, sementara Ben Donaldson harus puas di bangku cadangan. Satu-satunya pemain tanpa caps, Isaac Henry, siap menjalani debutnya jika diberi kesempatan.
Bagi pengamat rugbi di Indonesia, laga ini menarik karena menunjukkan bagaimana tim Asia mampu bersaing dengan negara kuat. Jepang, yang kerap menjadi inspirasi bagi perkembangan rugbi di kawasan, membuktikan bahwa investasi jangka panjang pada pembinaan pemain lokal dan naturalisasi dapat membuahkan hasil. Pelajaran ini relevan bagi Indonesia yang tengah berupaya memajukan olahraga rugbi, meski masih jauh tertinggal dalam hal infrastruktur dan kompetisi.
Kiss sendiri mengakui kualitas Jepang dan memilih untuk tidak meremehkan lawan. "Mereka tim yang solid, dengan pelatih yang sangat paham karakter rugbi Australia. Kami harus tampil disiplin dan siap bertarung hingga akhir," ujarnya dalam konferensi pers sebelum laga. Sementara itu, Eddie Jones, yang pernah membawa Jepang tampil mengejutkan di Piala Dunia 2015, tentu ingin membuktikan bahwa dirinya masih mampu bersaing di level tertinggi.
Dua laga ini menjadi ujian awal yang krusial bagi Kiss. Kegagalan meraih kemenangan, terutama di hadapan Jones, akan menjadi pukulan telak bagi kepercayaan diri tim. Sebaliknya, sapu bersih akan memberi sinyal positif bagi para penggemar Wallabies yang haus akan kebangkitan. Pertanyaannya, mampukah Kiss membawa Australia keluar dari bayang-bayang masa lalu dan membangun fondasi yang kokoh menuju Piala Dunia 2027? Jawabannya mulai terlihat di Osaka, dan tentu akan menjadi sorotan publik rugbi dunia.



