Cape Verde Mengguncang Panggung Dunia: Debutan Piala Dunia yang Tak Terkalahkan
Baca dalam 60 detik
- Tim debutan Cape Verde sukses menahan imbang Uruguay 2-2 setelah sebelumnya menahan Spanyol, mencatatkan rekor tak terkalahkan di dua laga perdana Piala Dunia.
- Dengan populasi hanya 525.000 jiwa, Cape Verde menunjukkan sepak bola menyerang yang berani dan percaya diri, mengundang decak kagum para pengamat.
- Peluang lolos ke babak gugur terbuka lebar: mereka hanya perlu mengalahkan Arab Saudi di laga terakhir grup untuk mengamankan tiket ke 32 besar.

Kisah Cape Verde di Piala Dunia 2026 telah menjadi salah satu narasi paling menarik turnamen ini. Tim berjuluk Hiu Biru itu kembali mengejutkan dunia dengan menahan imbang Uruguay 2-2 di Miami, Minggu (15/6), setelah sebelumnya menahan Spanyol pada laga debut mereka. Kini, mereka hanya berjarak satu kemenangan dari babak gugur.
Bermain dengan percaya diri dan tanpa beban, Cape Verde tampil menekan sejak menit pertama. Mereka tidak gentar menghadapi Uruguay, tim dua kali juara dunia yang di atas kertas jauh lebih diunggulkan. Gol pertama mereka tercipta dari tendangan bebas Kevin Pina yang melesat melewati celah pagar betis Uruguay yang anehnya membuka diri. Babak kedua, Helio Varela menyamakan kedudukan dengan sentuhan lembut setelah memanfaatkan bola liar di kotak penalti.
Penampilan ini membuat mantan striker Afrika Selatan, Benni McCarthy, memberikan penghormatan. โMereka luar biasa, berani, dan memenangkan hati banyak orang,โ ujarnya di BBC One. Mantan bek Wales, Ashley Williams, menyebut laga ini sebagai yang paling menghibur yang pernah ia komentari di Piala Dunia. โBahkan di akhir pertandingan, mereka masih mengincar kemenangan โ dan itu melawan Uruguay,โ katanya.
Kiper Vozinha, yang melonjak dari 40.000 menjadi 15 juta pengikut Instagram setelah laga melawan Spanyol, kali ini tidak perlu menjadi pahlawan. Pertahanan Cape Verde hanya membiarkan Uruguay melepaskan dua tembakan tepat sasaran. Namun, semangat juang tim ini justru terlihat di lini depan, dengan terus-menerus menekan dan menciptakan peluang hingga peluit akhir.
Bagi Indonesia, kisah Cape Verde memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana negara kecil dengan sumber daya terbatas bisa bersaing di level tertinggi sepak bola. Dengan populasi yang bahkan lebih kecil dari Kota Surabaya, Cape Verde membuktikan bahwa peringkat FIFA dan sejarah turnamen tidak selalu menentukan. Keberanian mereka bermain terbuka dan tanpa rasa inferior bisa menjadi inspirasi bagi tim-tim Asia Tenggara yang kerap merasa minder saat menghadapi raksasa sepak bola.
Di Grup H, Cape Verde kini berada di posisi ketiga dengan dua poin, sama dengan Uruguay. Arab Saudi, yang hanya bermain imbang 1-1 melawan Uruguay dan kalah telak 0-4 dari Spanyol, akan menjadi lawan terakhir mereka. Kemenangan atas Arab Saudi sudah cukup untuk memastikan langkah ke babak 32 besar, mengingat delapan dari dua belas tim peringkat ketiga terbaik akan lolos.
โMereka akan menghadapi Arab Saudi dengan ekor terangkat, merasa bisa lolos,โ kata Williams. Mantan penyerang Skotlandia, James McFadden, menambahkan, โHal terbesar bagi saya adalah betapa Cape Verde menikmati diri mereka sendiri. Sungguh menyenangkan untuk ditonton.โ
Pertanyaan besarnya kini: dapatkah Cape Verde menyelesaikan misi bersejarah mereka? Atau akankah Arab Saudi yang justru bangkit dan memupus mimpi indah Hiu Biru? Satu hal yang pasti, dunia sepak bola akan menyaksikan dengan napas tertahan.



