Dads and Braids: Ketika Ayah Belajar Menata Rambut Putri demi Mengikis Stereotip Pengasuhan
Baca dalam 60 detik
- Dua ayah rumah tangga di Singapura mendirikan lokakarya Dads and Braids untuk mengajari para ayah menata rambut anak perempuan mereka.
- Inisiatif ini lahir dari pengalaman pribadi pendiri yang kesulitan menata rambut putrinya, sekaligus menjadi ruang aman bagi ayah untuk belajar tanpa rasa malu.
- Lokakarya ini tidak hanya mengajarkan keterampilan menata rambut, tetapi juga menantang norma gender dalam pengasuhan dan mempererat ikatan ayah-anak.

Dua ayah rumah tangga di Singapura, Jeggan Rajendram dan Rukshan Chiththananda, mendirikan lokakarya unik bernama Dads and Braids yang mengajarkan para ayah cara menata rambut anak perempuan mereka, sekaligus menantang stereotip pengasuhan yang selama ini melekat.
Berawal dari pengalaman Rajendram yang kehilangan pekerjaan di Meta akibat kelelahan, ia memutuskan untuk mengambil cuti dan bepergian ke Sri Lanka bersama putri sulungnya. Di sana, ia menyadari bahwa ia tidak mampu menata rambut putrinya dengan baik, hanya mampu membuat kuncir kuda yang berantakan. Hal ini memicu tekadnya untuk belajar, dibantu oleh asisten rumah tangganya yang mengajarkan teknik dasar menyisir dan mengepang.
Sementara itu, Rukshan yang juga menjadi ayah rumah tangga setelah meninggalkan pekerjaannya di bidang teknologi kesehatan, mulai belajar menata rambut putrinya setelah sering mendapat tatapan sinis dari guru daycare. Keduanya kemudian bertukar pengalaman dan menyadari bahwa banyak ayah lain menghadapi kesulitan serupa. Dari situlah ide lokakarya ini muncul.
Setiap sesi Dads and Braids berlangsung sekitar 1,5 jam, di mana para peserta berlatih pada kepala manekin untuk mempelajari gaya rambut sederhana seperti kuncir kuda, kepang kembar, dan kuncir silang. Lokakarya ini sengaja dirancang sebagai ruang aman tanpa rasa malu, karena sebagian besar peserta benar-benar pemula. "Intinya bukan langsung mahir, tapi mencoba. Saya juga masih belajar bersama kalian," ujar Rajendram kepada para peserta.
Para ayah yang hadir memiliki motivasi beragam. Roy Choudhury, seorang pegawai perbankan berusia 42 tahun, ingin "berhenti menjadi bahan lelucon di rumah" karena putrinya sering mengancam akan meminta ayahnya menata rambut sebagai hukuman. Richard, 45 tahun, yang memiliki putri berusia dua tahun, menekankan bahwa upaya sekecil apa pun akan membuat anaknya senang, namun ia tidak ingin itu menjadi standar rendah bagi para ayah.
Menurut Rukshan, lokakarya ini bukan sekadar mengajarkan keterampilan menata rambut, tetapi juga membangun kepercayaan diri para ayah. "Kadang ayah tidak menata rambut putrinya karena mereka belum tahu. Sebelum sempat belajar, mereka sudah diejek oleh teman atau pasangan. Itu mematikan rasa ingin tahu," katanya. Rajendram menambahkan bahwa ia melihat standar ganda ketika dirinya dipuji karena mengepang rambut putrinya, sementara istrinya yang melakukannya setiap hari tidak pernah mendapat apresiasi serupa.
Dampak lokakarya ini tidak hanya dirasakan oleh para ayah, tetapi juga memperbaiki hubungan pernikahan. Rukshan mengaku bahwa pernikahannya menjadi lebih baik karena ia dan istrinya saling mendukung dalam mengasuh anak. "Dengan belajar menata rambut putri saya, saya menjauh dari normalisasi ketidakseimbangan pengasuhan dan menunjukkan bahwa ayah juga bisa memikul beban itu," ujarnya.
Ke depan, Dads and Braids berencana mengadakan lebih banyak sesi. Para ayah yang tertarik dapat menghubungi Rajendram melalui Instagram. Inisiatif ini menjadi contoh kecil bagaimana peran ayah dalam pengasuhan dapat diperluas, sekaligus mengikis stereotip bahwa urusan rambut anak adalah domain ibu. Pertanyaannya, akankah model lokakarya serupa juga menjamur di Indonesia, di mana norma pengasuhan masih sangat patriarkal?

