Kapten Tunisia Minta Maaf Usai Gagal Total di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Tunisia tersingkir dari Piala Dunia 2026 setelah dua kekalahan telak, memicu permintaan maaf dari kapten Ellyes Skhiri.
- Kekalahan 5-1 dari Swedia dan 4-0 dari Jepang menunjukkan penurunan performa drastis sejak kemenangan atas Prancis di Qatar 2022.
- Pergantian pelatih mendadak tak mampu menyelamatkan langkah Tunisia, yang kini hanya menyisakan satu laga pamungkas melawan Belanda.

Kapten timnas Tunisia, Ellyes Skhiri, menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada para pendukung setelah kekalahan beruntun di Piala Dunia 2026 memastikan langkah timnya terhenti di fase grup. Dua laga awal yang berakhir dengan kekalahan besar membuat skuad asal Afrika Utara itu gagal mewujudkan ambisi lolos ke babak gugur untuk pertama kalinya dalam sejarah keikutsertaan mereka di ajang sepak bola tertinggi dunia.
Tunisia memulai turnamen dengan basis di Monterrey, Meksiko, diiringi ekspektasi tinggi. Meski hasil pramusim kurang meyakinkan, optimisme sempat membuncah bahwa generasi ini mampu menembus babak 32 besar. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Tim yang di Qatar 2022 sukses mengalahkan juara bertahan Prancis itu tampil jauh dari performa terbaiknya.
Kekalahan 5-1 dari Swedia di laga perdana menjadi pukulan telak—kekalahan terbesar Tunisia sepanjang sejarah Piala Dunia. Federasi Sepak Bola Tunisia (FTF) bereaksi cepat dengan memecat pelatih Sabri Lamouchi dan menunjuk Hervé Renard, yang sebelumnya membawa Maroko dan Arab Saudi berlaga di Piala Dunia. Namun, waktu yang singkat tak cukup bagi Renard untuk membalikkan keadaan. Jepang kemudian menghancurkan harapan yang tersisa dengan kemenangan 4-0, memastikan Tunisia tersingkir lebih awal.
Kekecewaan terpancar jelas dari raut muka para pemain usai laga kontra Jepang. Skhiri, yang menjadi juru bicara tim, mengakui bahwa timnya jauh dari standar yang dibutuhkan di panggung sebesar ini. “Kami harus jujur pada diri sendiri. Performa dalam dua pertandingan terakhir menunjukkan kenyataan: kami belum memiliki level yang diperlukan untuk turnamen ini,” ujarnya kepada FIFA. “Saya benar-benar minta maaf kepada rakyat Tunisia.”
Skhiri juga menyoroti kesalahan individu yang berulang, terutama di menit-menit awal pertandingan. Melawan Swedia, gol cepat Yasin Ayari pada menit keenam terjadi akibat rangkaian kesalahan. Hal serupa terulang saat Jepang mencetak gol tercepat dalam sejarah mereka melalui Daichi Kamada hanya dalam empat menit. “Kami kebobolan terlalu banyak gol dan melakukan terlalu banyak kesalahan individu. Di level ini, Anda tidak boleh melakukan kesalahan seperti itu,” tegas Skhiri.
Meski telah tersingkir, Tunisia masih memiliki satu pertandingan grup melawan Belanda di Stadion Kansas City pada 25 Juni. Laga tersebut dipandang sebagai kesempatan untuk memperbaiki citra dan memberikan perlawanan terakhir. Namun, tanpa peluang lolos, motivasi tim menjadi tanda tanya besar. Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kegagalan Tunisia menjadi pengingat betapa tipisnya jarak antara harapan dan kenyataan di turnamen seketat Piala Dunia, sekaligus pelajaran tentang pentingnya konsistensi performa di level tertinggi.
Ke depan, tantangan bagi Tunisia bukan hanya membangun kembali kepercayaan diri, tetapi juga melakukan evaluasi struktural agar kesalahan serupa tak terulang di edisi mendatang. Pertanyaan besarnya: mampukah federasi dan para pemain bangkit dari keterpurukan ini, atau justru akan terpuruk lebih dalam?



