Kekalahan Telak di The Oval: Inggris Terpuruk, Selandia Baru Bangkit
Baca dalam 60 detik
- Matt Henry mencatatkan 11 wicket dalam pertandingan, menjadi pahlawan kemenangan Selandia Baru atas Inggris di The Oval.
- Kekalahan ini memperpanjang krisis Inggris yang kehilangan enam dari delapan tes terakhir, diperparah skandal kapten Ben Stokes.
- Seri kini imbang 1-1, dengan pertandingan penentu di Trent Bridge yang akan menguji konsistensi dan mentalitas kedua tim.

Kekalahan telak 253 run di The Oval pada hari Minggu (14/7) memupus harapan Inggris untuk memenangi seri melawan Selandia Baru, sekaligus membuka luka lama soal konsistensi performa tim tuan rumah. Dalam pertandingan yang hanya berlangsung kurang dari satu jam di hari kelima, Selandia Baru menunjukkan superioritas melalui performa gemilang Matt Henry yang mencatatkan 6-29 pada inning kedua dan 11-109 secara keseluruhan.
Kekalahan ini menjadi pukulan berat bagi Inggris yang sebelumnya unggul setelah kemenangan di Lord's. Namun, skandal yang melibatkan kapten Ben Stokes dan bowler Gus Atkinson—yang melanggar jam malam tim dan terlibat insiden dengan pemain rugby—memaksa kedua pemain dicoret dari pertandingan ini. Absennya Stokes, yang sedang dalam penyelidikan internal, membuat tim Inggris diperkuat tiga pemain debutan: Jordan Cox, James Rew, dan Sonny Baker.
Di sisi lain, Selandia Baru justru tampil solid meski kehilangan Kane Williamson yang pensiun. Henry Nicholls, pengganti Williamson, mencetak 121 run pada inning kedua, sementara Glenn Phillips membuat 100 run di inning pertama. Kombinasi bowling Henry yang agresif, didukung Kyle Jamieson dan Will O'Rourke, membuat lini batting Inggris runtuh hanya dalam 37,4 over.
Kekalahan ini juga menyoroti kelemahan Inggris dalam menghadapi tekanan, terutama saat wicketkeeper lawan berdiri dekat stumps untuk memberi tekanan pada batsman. Joe Root, yang pada hari Sabtu bertahan selama 143 bola, hanya mampu bertahan tiga over pada hari kelima sebelum terkena lbw dari Henry. Harry Brook juga gagal berkontribusi signifikan. Pelatih Brendon McCullum dan direktur kriket Rob Key kini berada di bawah tekanan untuk membalikkan tren negatif.
Bagi Selandia Baru, kemenangan ini menjadi bukti bahwa mereka mampu bangkit setelah kekalahan di Lord's. Tim asuhan Gary Stead tampil disiplin, tanpa gimmick, dan siap tempur—kualitas yang justru hilang dari Inggris. Dengan sejarah sebagai satu-satunya tim tamu yang memenangi seri tes di Inggris dalam 12 tahun terakhir, Selandia Baru berpeluang mengulang sukses 1999 di Trent Bridge.
Bagi penggemar kriket di Indonesia, pertandingan ini memberikan gambaran tentang pentingnya konsistensi dan kedalaman skuad. Inggris, yang kerap dianggap sebagai salah satu kekuatan kriket dunia, justru goyah saat menghadapi tekanan internal. Sementara Selandia Baru, dengan sumber daya terbatas, mampu memaksimalkan potensi pemain pengganti. Pertanyaan besarnya: mampukah Inggris bangkit di Trent Bridge, atau justru Selandia Baru yang akan menorehkan sejarah baru?