Perundingan Damai AS-Iran di Swiss: Selat Hormuz dan Lebanon Jadi Batu Sandungan
Baca dalam 60 detik
- Wakil Presiden AS JD Vance dan negosiator utama Iran Mohammad Baqer Ghalibaf memulai perundingan di resor Swiss untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat bulan.
- Iran menutup Selat Hormuz sebagai buntut serangan Israel di Lebanon, mengancam pasokan minyak global meski militer AS memastikan lalu lintas kapal tetap berjalan.
- Pakistan turut menjadi mediator, sementara Israel menyatakan tidak terikat kesepakatan dan tetap mempertahankan pasukannya di Lebanon.

Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran resmi dimulai Minggu pagi (21/6) di resor pegunungan Buergenstock, Swiss, dengan agenda utama mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat bulan. Namun, ketegangan di Selat Hormuz dan eskalasi serangan Israel di Lebanon membayangi jalannya dialog yang diharapkan menghasilkan kesepakatan sementara.
Wakil Presiden AS JD Vance dan ketua negosiator Iran Mohammad Baqer Ghalibaf memimpin delegasi masing-masing dalam pertemuan yang dimediasi oleh Pakistan dan Swiss. Sehari sebelumnya, Garda Revolusi Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon yang dinilai melanggar gencatan senjata. Militer AS, melalui Central Command, melaporkan bahwa 55 kapal dagang tetap melintasi selat tersebut pada Sabtu, membawa lebih dari 17 juta barel minyak.
Presiden AS Donald Trump, dalam unggahan media sosial, menegaskan tidak akan ada pungutan biaya bagi kapal yang melintas selama gencatan senjata 60 hari. Namun, ia mengancam akan memberlakukan tol jika perundingan gagal, menyebutnya sebagai "imbalan atas jasa yang diberikan sebagai Malaikat Pelindung negara-negara Timur Tengah".
Iran menuntut implementasi penuh 14 poin kesepakatan, termasuk gencatan senjata di semua front, terutama Lebanon. Mohammad Mokhber, penasihat pemimpin tertinggi Iran, menuduh AS gagal memenuhi poin pertama. Sebaliknya, Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad menyatakan kesiapan membuka peluang investasi jika pihak Barat mematuhi semangat perjanjian.
Di sisi lain, Israel menegaskan tidak terikat pada kesepakatan AS-Iran. Militer Israel menyatakan akan terus mempertahankan pasukannya di wilayah Lebanon yang diduduki, meskipun ada komitmen gencatan senjata. Serangan balasan antara Israel dan Hizbullah masih terjadi, dengan 20 warga Lebanon tewas pada Sabtu.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki implikasi langsung terhadap harga energi dan stabilitas pasokan minyak. Sebagai importir minyak, Indonesia rentan terhadap gangguan di Selat Hormuz. Pemerintah perlu mengantisipasi potensi kenaikan harga BBM dan mencari alternatif pasokan dari negara-negara non-Timur Tengah.
Perundingan di Buergenstock diperkirakan berlangsung beberapa hari. Vance menyatakan optimisme dapat mencapai kemajuan soal nuklir dan gencatan senjata Lebanon. Namun, dengan ketidakpercayaan yang mendalam dan kepentingan yang saling bertabrakan, jalan menuju perdamaian masih terjal.



