Jembatan 'Cincin Donat' Dukuh Atas Ditargetkan Redam Kemacetan Sudirman pada 2028
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah DKI Jakarta memproyeksikan pedestrian deck Dukuh Atas rampung pada 2028 untuk mengintegrasikan enam moda transportasi.
- Gubernur Pramono Anung menilai infrastruktur ini akan meminimalkan aktivitas penumpang di tepi jalan yang selama ini memicu kemacetan.
- Proyek yang dibiayai penuh oleh MRT Jakarta ini terinspirasi dari konsep serupa di Jepang dan akan dilengkapi fasilitas city check-in.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung optimistis pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas—yang populer dengan julukan 'cincin donat'—akan secara signifikan menekan kemacetan di Jalan Jenderal Sudirman dan sekitarnya. Infrastruktur yang ditargetkan beroperasi pada 2028 ini dirancang sebagai simpul integrasi enam moda transportasi dalam satu kawasan.
Menurut Pramono, kemacetan di titik tersebut selama ini sebagian besar disebabkan oleh penumpang yang turun naik kendaraan di pinggir jalan untuk berganti moda. Dengan adanya jembatan pejalan kaki di atas, perpindahan antarmoda tidak lagi mengganggu arus lalu lintas di bawah. "Setiap sore atau saat hujan, banyak orang berhenti di tepi jalan dan menghambat kendaraan. Setelah deck ini selesai, mereka akan beralih ke jalur atas," ujarnya saat pencanangan proyek, Minggu (21/6).
Proyek ini menjadi bagian dari pengembangan kawasan berorientasi transit (TOD) di pusat Jakarta. Enam moda yang akan terhubung meliputi MRT Jakarta, LRT Jakarta, LRT Jabodebek, KRL Commuter Line, Kereta Bandara, dan TransJakarta. Integrasi ini diharapkan menciptakan mobilitas tanpa hambatan (seamless mobility), di mana masyarakat dapat berpindah transportasi tanpa harus keluar ke jalan raya atau terpapar cuaca.
Selain sebagai pusat transit, kawasan Dukuh Atas ke depan berpotensi dilengkapi area city check-in dan layanan imigrasi bagi pengguna Kereta Bandara. Pemerintah Provinsi DKI juga berencana menggelar sayembara untuk menentukan nama resmi pedestrian deck yang saat ini lebih dikenal sebagai 'cincin donat' karena bentuknya yang melingkar.
Direktur Utama PT MRT Jakarta, Tuhiyat, menegaskan bahwa pembiayaan proyek sepenuhnya berasal dari perusahaan pelat merah tersebut. Meski demikian, nilai investasi belum diungkapkan ke publik. Pramono menambahkan, sumber dana pada akhirnya berasal dari penyertaan modal daerah yang selama ini diberikan kepada MRT Jakarta sebagai BUMD milik Pemprov DKI.
Awalnya, Pramono menargetkan proyek ini rampung bertepatan dengan perayaan 500 tahun Jakarta pada Juni 2027. Namun, setelah mempertimbangkan proses pembangunan yang kompleks, target penyelesaian dimundurkan hingga 2028. Meski demikian, ia optimistis bentuk fisik 'cincin donat' akan segera terlihat dalam waktu dekat.
Kehadiran pedestrian deck ini menjadi ujian bagi komitmen Pemprov DKI dalam mewujudkan transportasi publik yang terintegrasi. Pertanyaan yang tersisa: apakah infrastruktur ini mampu mengurai kemacetan secara nyata, atau justru menimbulkan masalah baru seperti kepadatan di titik akses lain?



