Prabowo Canangkan Akademi Olahraga Nasional, Bibit Atlet Dibidik Sejak Usia 8 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto menyetujui pembentukan Akademi Olahraga Nasional yang akan menjaring dan membina calon atlet mulai dari tingkat Sekolah Dasar.
- Pemerintah mengalokasikan anggaran multiyears untuk pemusatan latihan nasional guna mempersiapkan atlet menghadapi Olimpiade, Asian Games, dan SEA Games.
- Program sertifikasi pelatih disabilitas dan skema dana pensiun atlet turut digodok sebagai bagian dari ekosistem pembinaan olahraga yang inklusif dan berkelanjutan.

Presiden Prabowo Subianto memerintahkan pembangunan Akademi Olahraga Nasional yang akan memulai pembinaan atlet sejak anak berusia delapan tahun, sebuah langkah yang dinilai sebagai fondasi baru bagi regenerasi olahraga Indonesia. Dalam pertemuan dengan Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir di Hambalang, Jawa Barat, Jumat (19/6/2026), Prabowo menegaskan bahwa sistem pembinaan harus dimulai dari jenjang pendidikan dasar, bukan menunggu usia remaja seperti yang lazim dilakukan selama ini.
Erick Thohir menjelaskan bahwa akademi tersebut akan menerapkan kurikulum berjenjang dari SD, SMP, hingga SMA. "Jadi, siapa yang akan menjadi atlet ke depan, dari usia 8-10 tahun sudah mulai dibina," ujarnya. Langkah ini merupakan terobosan karena selama ini pembibitan atlet muda di Indonesia kerap terputus di tengah jalan akibat minimnya wadah terstruktur. Dengan adanya akademi nasional, pemerintah berharap muncul bibit unggul yang siap bersaing di level internasional dalam satu dekade ke depan.
Prabowo juga menyetujui skema anggaran multiyears untuk pemusatan latihan nasional (Pelatnas), yang selama ini kerap terkendala anggaran tahunan yang tidak menentu. Menurut Erick, komitmen pendanaan jangka panjang ini menjadi kunci agar program pembinaan tidak berhenti di tengah jalan. Target utama dari skema ini adalah mempersiapkan atlet Indonesia untuk Olimpiade, Asian Games, dan SEA Games secara berkelanjutan, bukan sekadar mengejar target jangka pendek.
Di luar pembinaan atlet umum, Prabowo secara khusus menyoroti olahraga disabilitas. Erick melaporkan bahwa jumlah penyandang disabilitas yang gemar berolahraga mencapai 23,9 juta hingga 25,9 juta jiwa, atau hampir 11 persen dari total populasi. Angka ini dinilai sebagai potensi besar yang selama ini kurang tergarap. Pemerintah akan meluncurkan program sertifikasi pelatih disabilitas agar mereka memiliki kompetensi resmi dan bisa berkontribusi dalam pembinaan atlet paralimpik.
"Yang pasti Bapak Presiden sangat peduli dengan olahraga disabilitas. Salah satu program yang kami dorong adalah bagaimana masyarakat disabilitas di Indonesia diperhatikan melalui sertifikasi kepelatihan untuk mereka," tutur Erick. Langkah ini sejalan dengan semangat inklusivitas yang dicanangkan pemerintah, sekaligus membuka peluang kerja bagi penyandang disabilitas di sektor olahraga.
Isu kesejahteraan atlet juga mengemuka dalam pertemuan tersebut. Prabowo menanyakan langsung perkembangan skema dana pensiun atlet yang selama ini masih dalam tahap penggodokan. Erick mengakui bahwa sistem perlindungan sosial bagi atlet purnabakti masih lemah, sehingga banyak mantan atlet yang hidup dalam kesulitan ekonomi. "Presiden tanyakan mengenai dana pensiun atlet yang masih kita terus godok bagaimana persiapan ke depannya," pungkasnya.
Bagi Indonesia, langkah ini memiliki implikasi luas. Dengan populasi muda yang besar, akademi olahraga nasional bisa menjadi jawaban atas krisis regenerasi atlet yang kerap dikeluhkan pengamat. Namun, tantangan terbesar ada pada implementasi di daerah, mengingat infrastruktur dan sumber daya pelatih yang tidak merata. Pemerintah perlu memastikan bahwa akademi ini tidak hanya menjadi proyek elite di pusat, melainkan menjangkau talenta dari seluruh pelosok negeri.
Ke depan, publik akan menanti apakah skema pendanaan multiyears ini benar-benar terealisasi tanpa hambatan birokrasi, dan apakah sertifikasi pelatih disabilitas mampu mengejar ketertinggalan Indonesia di ajang Paralimpiade. Satu hal yang pasti: keputusan ini menandai perubahan paradigma dalam pembinaan olahraga nasional, dari pendekatan reaktif menjadi proaktif dan berjangka panjang.



