Anthropic Gagal Meluncurkan Model AI, China Raup Keuntungan dari Celah Regulasi AS
Baca dalam 60 detik
- Peluncuran model AI Mythos dan Fable milik Anthropic gagal total setelah pemerintah AS memblokir akses bagi warga negara asing, termasuk sekutu dan staf internal perusahaan.
- Laboratorium AI China, Zhipu, memanfaatkan situasi dengan merilis model open-source terbaru, mengirim sinyal kepercayaan di tengah ketidakpastian akses teknologi AS.
- Kebijakan ekspor AS yang kacau justru memperkuat daya tarik AI China yang lebih murah dan terbuka, memicu kekhawatiran global akan dominasi teknologi yang tidak stabil.

Kegagalan peluncuran model kecerdasan buatan (AI) paling canggih milik Anthropic, Mythos, dan versi ringannya, Fable, justru menjadi berkah tak terduga bagi laboratorium AI China yang mengusung semangat open-source. Alih-alih menunjukkan superioritas Silicon Valley, insiden ini justru membeberkan kerapuhan ekosistem AI Amerika Serikat di bawah tekanan politik yang tidak menentu.
Kekacauan bermula ketika Anthropic, perusahaan rintisan AI asal AS yang dikenal dengan pendekatan keamanan ketat, mengumumkan penonaktifan akses ke kedua model tersebut. Langkah ini diambil setelah pemerintahan Trump memerintahkan pemblokiran bagi warga negara asing, termasuk sekutu AS dan anggota staf internasional Anthropic sendiri. Keputusan mendadak itu langsung disambut oleh Zhipu, laboratorium AI asal Beijing, yang segera meluncurkan model terbaru mereka dengan status open-source.
Dalam unggahan di platform X, salah satu pendiri Zhipu, Jie Tang, menyebut pembatasan akses secara tiba-tiba sebagai tindakan yang "sangat disesalkan". "Pada saat akses ke model-model terdepan diputus karena alasan non-teknis, kami semakin yakin akan satu hal: Sains harus bersifat global," tulis Tang. Ia bahkan secara simbolis menjadwalkan peluncuran model baru pada pukul 5:21, merujuk pada memo internal Anthropic yang menyebutkan waktu penerimaan arahan dari Washington pada pukul 5:21 sore.
Langkah Zhipu menjadi sinyal kuat di saat Anthropic justru terpojok. Dengan model open-source, perusahaan, pemerintah, atau organisasi mana pun yang memiliki perangkat keras memadai dapat menjalankan AI secara lokal tanpa khawatir aksesnya dicabut sewaktu-waktu. Analis dari Bloomberg News menilai bahwa Zhipu mengirim pesan yang jelas: keandalan dan akses terbuka kini menjadi nilai jual utama, menggantikan sekadar performa mentah.
Kyle Chan dari Brookings Institution menyebut momen ini sebagai "hari yang menyenangkan" bagi perusahaan AI China yang terbuka. Mereka mendapatkan promosi gratis yang bahkan tidak pernah mereka bayangkan. Sementara itu, para pemimpin global mulai angkat bicara. Seorang calon presiden Prancis menyebut kebijakan AS sebagai "panggilan bangun", menambahkan bahwa "bangsa yang bergantung pada teknologi bangsa lain adalah bangsa yang bisa diputus koneksinya dalam semalam". Perdana Menteri Kanada Mark Carney pun menegaskan perlunya diversifikasi teknologi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membawa implikasi strategis. Ketergantungan pada satu negara atau perusahaan untuk infrastruktur AI bisa menjadi risiko geopolitik yang mahal. Model open-source dari China menawarkan alternatif yang lebih murah dan dapat diadaptasi secara lokal, namun juga memunculkan pertanyaan tentang keamanan data dan kepatuhan terhadap regulasi domestik. Pemerintah Indonesia perlu mencermati dinamika ini dalam menyusun kebijakan teknologi nasional, terutama di tengah rencana pembangunan pusat data dan pengembangan talenta AI.
Kontroversi ini juga mempertegas perdebatan sengit mengenai biaya AI. Dengan tagihan investasi yang membengkak, semakin banyak pemimpin bisnis yang mempertanyakan apakah model termahal benar-benar diperlukan. Sebagian besar perusahaan tidak membutuhkan sistem yang mampu memecahkan soal fisika kuantum untuk mengotomatiskan pekerjaan administrasi. AI yang "cukup baik" dan lebih murah, seperti yang ditawarkan laboratorium China, menjadi pilihan rasional.
Pada akhirnya, kegagalan Anthropic bukan sekadar insiden perusahaan, melainkan cerminan kegagalan tata kelola AI global. Persaingan AS-China telah mengerdilkan diskusi serius tentang keselamatan AI. Teknologi terus bergerak lebih cepat dari kemampuan siapa pun untuk mengaturnya. Dalam perlombaan ini, yang mungkin menjadi pecundang bukanlah Washington atau Beijing, melainkan seluruh dunia.



