Peraih Nobel John Jumper Tinggalkan Google DeepMind, Bergabung ke Anthropic
Baca dalam 60 detik
- John Jumper, otak di balik AlphaFold, hengkang dari Google DeepMind ke Anthropic setelah hampir sembilan tahun.
- Perpindahan ini memperkuat persaingan sengit perebutan talenta AI antara raksasa teknologi dan startup.
- Anthropic, yang tengah berkonflik dengan pemerintah AS, mendapatkan amunisi baru untuk riset AI mutakhir.

John Jumper, ilmuwan senior yang meraih Nobel pada 2024 bersama Demis Hassabis, memutuskan meninggalkan Google DeepMind dan bergabung dengan startup kecerdasan buatan Anthropic. Langkah ini menjadi sinyal terbaru dari perang bakat yang semakin memanas di industri AI global.
Jumper dikenal luas sebagai pencipta utama AlphaFold, sistem AI yang mampu memprediksi lebih dari 200 juta struktur protein. Terobosan ini memangkas waktu riset biologi dan medis hingga bertahun-tahun, membuka jalan bagi pengembangan obat dan pemahaman penyakit secara lebih cepat. Dalam unggahan di platform X, ia menyebut keputusannya setelah hampir sembilan tahun mengabdi di DeepMind.
Kepergian Jumper terjadi hanya beberapa hari setelah Noam Shazeer, wakil presiden teknik Google dan salah satu pemimpin model AI Gemini, memilih pindah ke OpenAI yang tengah bersiap melantai di bursa. Fenomena ini mencerminkan perebutan sumber daya manusia langka di antara raksasa teknologi seperti Meta, Alphabet, dan startup seperti Anthropic serta OpenAI.
Analis D.A. Davidson, Gil Luria, menilai bahwa permintaan akan talenta riset AI yang terbatas membuat laboratorium AI terdepan rela melakukan apa pun untuk merekrut mereka. "OpenAI dan Anthropic memiliki keunggulan dibanding perusahaan besar seperti Google karena mereka bisa menjanjikan birokrasi yang lebih sedikit dan fokus yang lebih tajam dalam mengejar superintelligence," ujarnya. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para peneliti yang ingin bekerja dengan lebih leluasa.
Bagi Indonesia, perpindahan tokoh sekelas Jumper menggarisbawahi pentingnya investasi dalam riset AI dan pengembangan talenta lokal. Tanpa upaya serius, kesenjangan antara negara maju dan berkembang dalam penguasaan teknologi ini akan semakin lebar. Kehadiran AI seperti AlphaFold juga membuka peluang bagi riset biomedis di Indonesia, misalnya dalam penemuan obat untuk penyakit tropis yang banyak terjadi di tanah air.
Hassabis, dalam tanggapannya atas unggahan Jumper, menegaskan bahwa apa yang telah dicapai bersama AlphaFold telah mengubah dunia dan menunjukkan potensi AI bagi sains dan kedokteran. Sementara itu, juru bicara Google DeepMind menyampaikan apresiasi atas kontribusi Jumper dan mendoakan kesuksesannya di langkah berikutnya. Anthropic sendiri belum memberikan komentar resmi mengenai peran baru Jumper, meski perusahaan dijadwalkan mengadakan acara sains pada akhir bulan ini.
Dengan bergabungnya Jumper, Anthropic semakin memperkuat posisinya sebagai pesaing serius di panggung AI global. Pertanyaan besarnya kini: akankah perang bakat ini memicu percepatan inovasi yang signifikan, atau justru menimbulkan fragmentasi riset yang merugikan kolaborasi ilmiah?

