Capello di Usia 80: Ronaldo Fenomeno Pemain Terbaik, Cassano Bikin Kesal
Baca dalam 60 detik
- Fabio Capello genap 80 tahun dan menyebut Ronaldo Brasil sebagai pemain terbaik yang pernah dilatihnya, sementara Antonio Cassano dinilai sebagai talenta yang terbuang.
- Dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport, Capello juga mengungkapkan tiga pelatih yang paling menginspirasinya: Herrera, Liedholm, dan Rocco.
- Capello menobatkan Daniele De Rossi sebagai murid terbaik yang kini sukses menjadi pelatih, serta mengenang kemenangan Liga Champions 1994 sebagai momen paling indah.

Fabio Capello, salah satu pelatih paling disegani dalam sejarah sepak bola, genap berusia 80 tahun pada Kamis (18/6). Dalam wawancara eksklusif dengan La Gazzetta dello Sport, ia membuka memori tentang karier panjangnya—dari pemain hingga arsitek kemenangan—dan menyebut Ronaldo Luís Nazário de Lima, atau Ronaldo Fenômeno, sebagai pemain terbaik yang pernah ia latih. Namun, di balik pujian itu, Capello juga menyisipkan kekecewaan terhadap Antonio Cassano, talenta brilian yang menurutnya gagal karena sikap.
Capello, yang meraih empat Scudetto sebagai pemain bersama Roma, Juventus, dan Milan, serta sukses sebagai pelatih di Milan, Real Madrid, Roma, Juventus, tim nasional Inggris, dan Rusia, mengaku bahwa tiga pelatih besar membentuk filosofinya: Helenio Herrera, Nils Liedholm, dan Nereo Rocco. “Saya banyak meniru dari Herrera, seorang motivator hebat yang jauh di depan zamannya. Dari Liedholm, saya belajar membuat pemain percaya bahwa mereka menginginkan sesuatu, padahal sebenarnya saya yang menginginkannya. Rocco memahami sepak bola dengan brilian, langsung dan tanpa basa-basi,” ujar Capello.
Bagi Capello, kenangan terindah sebagai pemain adalah masa-masa awal karier: trofi pertama, Scudetto pertama bersama Juventus, dan bintang pertama di kostum Milan bersama Gianni Rivera. Namun, sebagai pelatih, puncak kebahagiaan adalah kemenangan Liga Champions 1994 bersama AC Milan. “Kami menang melawan segala rintangan, itu membuatnya semakin indah,” kenangnya.
Saat ditanya siapa pemain terbaik yang pernah dilatihnya, Capello tanpa ragu menjawab Ronaldo. “Dia adalah juara sejati. Sayangnya, dia tidak mau berkorban lagi. Dan di Madrid, mereka memaksa saya menjualnya,” ungkap Capello. Ia juga menyebut Cassano sebagai talenta luar biasa, tetapi “membuat saya terlalu marah. Bakat yang hilang.” Pernyataan ini menggarisbawahi betapa Capello menghargai dedikasi dan disiplin di atas segalanya.
Di sisi lain, Capello menobatkan Daniele De Rossi sebagai “murid terbaik”—pemain yang pernah dilatihnya dan kini sukses menjadi pelatih. “Saya memberinya debut di Roma, saya banyak berinvestasi padanya. Karena kasih sayang, saya pilih Daniele,” katanya. De Rossi, yang kini menangani SPAL di Serie B, dianggap sebagai contoh nyata bagaimana seorang pemain bisa menyerap ilmu pelatih dan meneruskannya.
Bagi pencinta sepak bola Indonesia, kisah Capello memberikan pelajaran tentang pentingnya bakat dan karakter. Ronaldo dan Cassano sama-sama jenius, tetapi nasib mereka berbeda karena sikap dan kerja keras. Di tengah gempuran sepak bola modern yang semakin instan, figur seperti Capello mengingatkan bahwa kesuksesan sejati lahir dari disiplin dan pengorbanan—nilai yang relevan bagi pengembangan sepak bola nasional.
Ke depan, Capello mungkin tidak akan kembali ke bangku pelatih, tetapi warisannya tetap hidup melalui para pemain dan pelatih yang pernah ia bentuk. Pertanyaan yang tersisa: akankah ada generasi baru yang mampu meniru jejak Ronaldo, atau justru mengulangi kegagalan Cassano?



