Piala Dunia 2026: Euforia Sepak Bola Mengguncang Seoul, Bisnis Melonjak
Baca dalam 60 detik
- Kemenangan perdana Korea Selatan di Piala Dunia 2026 memicu lonjakan penjualan jersey dan reservasi restoran di Seoul.
- Platform fesyen Musinsa mencatat kenaikan pencarian jersey timnas hingga lima kali lipat, sementara restoran melaporkan pendapatan empat kali lipat dari biasanya.
- Pertandingan melawan Meksiko pada Jumat akan menentukan langkah Korea Selatan ke fase gugur, dengan Gwanghwamun Square menjadi pusat perayaan.

Euforia Piala Dunia 2026 melanda Seoul setelah kemenangan dramatis Korea Selatan atas Republik Ceko pekan lalu, mendorong bisnis dari ritel hingga restoran menikmati lonjakan permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Warga yang biasanya tidak tertarik sepak bola kini berbondong-bondong membeli jersey dan memadati tempat nobar, menandai perubahan besar dalam budaya olahraga Negeri Ginseng.
Ryu Je-ha, seorang warga Seoul, mengaku jarang mengenakan jersey timnas, tetapi kegembiraan turnamen ini membuatnya berubah pikiran. "Saya biasanya tidak cukup tertarik untuk memakai jersey dan bersorak. Tapi Piala Dunia kali ini seru dan desain jerseynya bagus, jadi saya ingin mendukung tim dengan memakainya," ujarnya saat berbelanja di distrik Seongsu. Ia berencana menonton laga melawan Meksiko di Gwanghwamun Square, pusat kota Seoul, yang diprediksi akan dipenuhi ribuan pendukung.
Fenomena serupa terlihat di berbagai sudut ibu kota. Platform fesyen Musinsa melaporkan pencarian kata kunci "jersey Korea Selatan" di aplikasinya melonjak hampir lima kali lipat setelah kemenangan perdana, sementara penjualan jersey sepak bola secara keseluruhan naik lebih dari 30 persen dibanding tahun lalu. Di zona penggemar di Gangnam, pengunjung antre untuk menguji kemampuan menembak dan mengikuti permainan bertema sepak bola, meskipun pertandingan dimulai pada pagi hari waktu setempat.
Restoran juga kebanjiran pelanggan. Dalmaji Square BBQ, jaringan restoran ayam bakar, membuka gerainya lebih awal untuk menayangkan pertandingan. Manajer Kim Hyun-gyu mengaku awalnya khawatir cuaca panas akan mengurangi minat, tetapi antusiasme penonton justru membuat mereka lupa akan ketidaknyamanan. "Kami menerima banyak pertanyaan tentang cara memesan tempat. Respons itu benar-benar menunjukkan betapa besarnya minat masyarakat," katanya. Restoran lain bahkan mencatat pendapatan hingga empat kali lipat dari biasanya.
Kesuksesan ini tidak lepas dari strategi ofensif Korea Selatan yang agresif di bawah asuhan pelatih anyar. Kemenangan atas Republik Ceko tidak hanya membawa tiga poin, tetapi juga kepercayaan diri yang tinggi. Kini perhatian tertuju pada laga hidup-mati melawan Meksiko, yang sama-sama memenangi pertandingan pertama Grup A. Pemenang laga Jumat ini akan memastikan tempat di babak gugur, menjadikannya salah satu pertandingan paling krusial bagi Korea Selatan dalam satu dekade terakhir.
Bagi Indonesia, euforia serupa mungkin terasa jika timnas mampu bersaing di level Asia. Namun, pelajaran dari Seoul adalah bagaimana sepak bola mampu menggerakkan ekonomi lokal secara nyataโdari penjualan jersey hingga pendapatan restoran. Jika PSSI dan pemerintah serius mengembangkan ekosistem sepak bola, bukan tidak mungkin gelombang demam sepak bola seperti ini juga bisa terjadi di Jakarta, Surabaya, atau Bandung saat Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-17 atau bahkan lolos ke Piala Dunia senior.
Dengan Gwanghwamun Square yang diperkirakan akan menjadi lautan merah, pertanyaan besarnya adalah: bisakah Korea Selatan mempertahankan momentum dan melaju jauh di turnamen ini? Atau akankah tekanan publik yang tiba-tiba besar justru menjadi bumerang? Satu hal pasti, bisnis di Seoul sudah menikmati berkah lebih awal, terlepas dari hasil akhir di lapangan.



