Mantan Juara Dunia Lari Jenny Simpson Kolaps Saat Event, Kondisinya Mulai Membaik
Baca dalam 60 detik
- Atlet lari legendaris asal Amerika Serikat, Jenny Simpson, mengalami kolaps dan membutuhkan CPR saat memandu acara lari mile di Raleigh, Carolina Utara.
- Simpson, yang pensiun akhir 2024, kini dirawat di rumah sakit dan menunjukkan perkembangan positif meski masih dalam pengawasan medis.
- Kejadian ini menyoroti risiko kesehatan atlet pasca-pensiun dan pentingnya respons cepat dalam situasi darurat olahraga.

Jenny Simpson, peraih medali Olimpiade dan mantan juara dunia lari 1500 meter, mengalami kolaps saat memandu kelompok lari mile dalam acara Sir Walter Miler di Raleigh, Carolina Utara, Selasa (25/3). Atlet berusia 39 tahun itu dilaporkan membutuhkan resusitasi jantung paru (CPR) di lokasi sebelum dilarikan ke rumah sakit. Kini, kondisinya dilaporkan mulai menunjukkan perbaikan yang menggembirakan.
Simpson, yang pensiun dari lari kompetitif pada akhir musim 2024, hadir dalam acara pop-up yang digelar oleh Sir Walter Miler. Ia bertindak sebagai pacemaker atau pemandu kecepatan bagi peserta lari mile. Namun, di tengah kegiatan, ia tiba-tiba jatuh dan tak sadarkan diri. Tim medis yang berada di lokasi segera memberikan pertolongan pertama, termasuk CPR, sebelum membawanya ke fasilitas kesehatan terdekat.
Fleet Feet, perusahaan perlengkapan lari yang menjadi sponsor Simpson, mengonfirmasi bahwa atlet tersebut menerima perawatan medis segera. CEO Fleet Feet, Joey Pointer, yang juga hadir dalam acara itu, mendampingi Simpson di rumah sakit sepanjang malam hingga keluarganya tiba pada Rabu pagi. Dalam pernyataan resmi, Fleet Feet menyebut Simpson menunjukkan peningkatan yang menggembirakan dan tetap memiliki semangat juang yang menjadi ciri khasnya. "Benar-benar sesuai karakternya, ia sudah bertanya tentang waktu larinya dan apakah ia menang," demikian pernyataan perusahaan tersebut.
Simpson merupakan salah satu pelari jarak menengah terbaik Amerika Serikat. Ia meraih emas 1500 meter di Kejuaraan Dunia 2011 di Daegu, Korea Selatan, serta perunggu di Olimpiade Rio 2016. Ia juga dua kali meraih perak di Kejuaraan Dunia 2013 dan 2017. Prestasinya menjadikannya ikon dalam dunia atletik, khususnya di nomor lari 1500 meter.
Kejadian ini mengingatkan kembali pada risiko kesehatan yang dihadapi atlet, bahkan setelah pensiun. Menurut Dr. Andika Wibowo, spesialis kedokteran olahraga dari Jakarta, kolaps saat beraktivitas fisik bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari dehidrasi, gangguan irama jantung, hingga kondisi medis yang tidak terdeteksi sebelumnya. "Respons cepat dengan CPR sangat krusial dalam situasi seperti ini. Ini menunjukkan pentingnya ketersediaan tenaga medis di setiap event olahraga," ujarnya.
Di Indonesia, kasus serupa juga pernah terjadi pada atlet atau pelari amatir saat mengikuti event lari. Hal ini mendorong penyelenggara untuk semakin memperketat protokol kesehatan dan keselamatan, termasuk menyediakan tim medis siaga dan alat defibrillator di lokasi. Bagi pelari Tanah Air, kejadian ini menjadi pengingat untuk selalu memeriksakan kondisi kesehatan sebelum berpartisipasi dalam aktivitas fisik berat, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung atau faktor risiko lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, Simpson masih menjalani perawatan di rumah sakit. Keluarga dan tim medis terus memantau perkembangannya. Pertanyaan yang mengemuka: akankah insiden ini memengaruhi rencana Simpson pasca-pensiun, atau justru menjadi titik balik untuk lebih memperhatikan kesehatan atlet veteran?



