BI Rate Naik ke 5,75%, Danantara Dorong Bank Himbara Genjot Efisiensi
Baca dalam 60 detik
- Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 5,75% pada Kamis (18/6/2026), mendorong respons dari jajaran bank BUMN.
- CEO Danantara Rosan Roeslani menekankan pentingnya efisiensi perbankan agar kenaikan bunga tidak membebani kredit UMKM dan masyarakat.
- Pertemuan dengan Presiden Prabowo tidak menghasilkan arahan untuk menahan suku bunga kredit, melainkan diskusi filosofis arah ekonomi nasional.

Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% pada Kamis (18/6/2026) langsung mendapat respons dari pucuk pimpinan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). CEO Danantara Rosan Roeslani mendesak perbankan, khususnya bank Himbara, untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas demi menjaga agar kenaikan biaya dana tidak merambat ke suku bunga kredit.
Pernyataan itu disampaikan Rosan usai mengikuti pertemuan tertutup antara Presiden Prabowo Subianto dengan jajaran direksi dan komisaris bank Himbara di Istana Kepresidenan, Jakarta. Dalam pertemuan yang berlangsung Kamis siang itu, Rosan memaparkan data kinerja perbankan yang menunjukkan pertumbuhan pinjaman rata-rata 15% sepanjang 2025-2026, serta likuiditas dan dana pihak ketiga yang juga tumbuh double digit.
โNon performing loan (NPL) Bank Mandiri hanya 0,9%, rata-rata NPL bank Himbara antara 0,9% hingga 1,8%,โ ujar Rosan. Angka tersebut, menurutnya, menunjukkan fundamental perbankan yang sehat. Namun, ia menekankan bahwa efisiensi menjadi kunci agar kenaikan suku bunga acuan tidak berdampak pada pengetatan kredit ke sektor riil, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
โJustru hal itu yang mesti diperbaiki, yang bisa ditingkatkan efisiensinya, sehingga walaupun ada kenaikan suku bunga tetapi lending-nya ke masyarakat, kepada dunia usaha terutama UMKM, bisa tetap terjaga di level yang baik,โ kata Rosan. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Danantara tidak ingin kenaikan BI Rate menjadi alasan bagi perbankan untuk menaikkan suku bunga kredit secara signifikan.
Di sisi lain, Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir menegaskan bahwa pihaknya akan mengikuti kebijakan yang ditetapkan oleh otoritas moneter dan fiskal. โKita akan support, pasti mereka sudah ada hitungannya. Buat kami Danantara sebagai pelaku, kami akan lakukan yang terbaik,โ ujarnya. Pandu juga menambahkan bahwa tidak ada arahan spesifik dari Presiden Prabowo agar bank Himbara menahan suku bunga kredit. โNggak ada arahan, itu tadi arahan filosofis aja, pembicaraan tentang Indonesia arah kita kemana. Saya rasa positif paparannya,โ tuturnya.
Bagi investor dan pelaku pasar, sikap Danantara ini menjadi sinyal bahwa tekanan efisiensi akan semakin terasa di perbankan pelat merah. Dengan BI Rate yang masih berpotensi naik lebih lanjut, bank Himbara dituntut untuk mengoptimalkan biaya operasional tanpa mengorbankan ekspansi kredit. Pertanyaan yang kini mengemuka: seberapa cepat bank-bank BUMN mampu menekan rasio biaya pendapatan (BOPO) agar margin bunga bersih (NIM) tetap terjaga? Jawabannya akan menentukan daya saing sektor perbankan nasional di tengah siklus pengetatan moneter.



