Gagal Gaet Krösche, AC Milan Dituding Amatir dalam Negosiasi
Baca dalam 60 detik
- AC Milan gagal merekrut Markus Krösche dari Eintracht Frankfurt meski menawarkan gaji €10 juta per musim dan anggaran transfer €700 juta.
- Kegagalan ini dinilai sebagai blunder diplomatik karena negosiasi bocor ke publik sebelum ada kesepakatan, membuat Krösche enggan pindah.
- Kasus ini menjadi pelajaran bagi klub Serie A bahwa pendekatan agresif tanpa kejelasan kontrak bisa merusak reputasi di kancah Eropa.

AC Milan harus menelan pil pahit setelah upaya mendatangkan direktur olahraga Eintracht Frankfurt, Markus Krösche, berakhir dengan kegagalan. Tawaran menggiurkan berupa gaji €10 juta per musim selama empat tahun—total €40 juta—serta anggaran transfer €700 juta untuk membangun ulang tim tidak cukup untuk membujuk eksekutif asal Jerman itu meninggalkan Bundesliga. Yang lebih memalukan, kegagalan ini dibarengi kritik dari media Jerman yang menyebut penanganan negosiasi oleh Milan sebagai 'amatir'.
Menurut laporan BILD, Krösche sebenarnya memiliki klausul rilis dalam kontraknya di Frankfurt senilai €7 juta, namun klausul itu hanya berlaku pada jendela transfer musim dingin, bukan musim panas. Akibatnya, Milan harus bernegosiasi langsung dengan Frankfurt yang mematok harga €10 juta untuk melepas Krösche. Namun, masalah tidak berhenti di situ. Negosiasi yang berlangsung selama beberapa pekan justru bocor ke media Italia sebelum ada kesepakatan final, membuat Krösche merasa 'kesal' karena namanya dikait-kaitkan dengan kepindahan yang belum pasti.
BILD menulis bahwa Krösche memutuskan bertahan di Frankfurt karena tidak ingin mengecewakan klub yang telah memperlakukannya dengan baik, terutama menjelang bursa transfer. Ia juga enggan mengecewakan 600 staf yang bekerja di bawahnya di Deutsche Bank Park. Keputusan ini menunjukkan bahwa faktor loyalitas dan etika kerja masih menjadi pertimbangan utama, melebihi godaan finansial. Di sisi lain, Milan justru dinilai kurang profesional karena membiarkan negosiasi yang belum matang menjadi konsumsi publik.
Kegagalan ini menjadi tamparan bagi ambisi Milan untuk kembali berjaya di Eropa. Dengan tawaran sebesar itu, seharusnya klub asal Lombardy itu mampu mengamankan jasa Krösche yang dikenal sukses membangun Frankfurt menjadi tim kompetitif di Bundesliga dan Eropa. Namun, pendekatan yang terburu-buru dan kurang hati-hati justru membuat mereka kehilangan momentum. Apalagi, Krösche bukan satu-satunya target; Milan sebelumnya juga dikaitkan dengan beberapa nama lain untuk posisi serupa.
Bagi pengamat sepak bola Italia, kasus ini mengingatkan bahwa negosiasi level tinggi membutuhkan kehati-hatian ekstra. Kebocoran informasi tidak hanya merusak kepercayaan calon eksekutif, tetapi juga bisa mencoreng reputasi klub di mata publik. Milan, yang tengah dalam masa transisi kepemilikan dan manajemen, seharusnya belajar dari pengalaman ini untuk tidak mengulangi kesalahan serupa di masa depan.
Ke depan, Milan harus segera mencari alternatif lain untuk mengisi pos direktur olahraga. Nama-nama seperti Giovanni Sartori atau mantan direktur Inter, Piero Ausilio, sempat disebut-sebut. Namun, tanpa pendekatan yang profesional dan tertutup, bukan tidak mungkin Milan kembali mengalami kegagalan. Pertanyaan besarnya: akankah manajemen Rossoneri mampu memperbaiki citra dan strategi negosiasi mereka, atau justru akan terus terpuruk dalam persaingan merekrut talenta terbaik Eropa?



