Hari Bencana Inggris di Oval: Taktik Kacau dan Century Perdana Phillips
Baca dalam 60 detik
- Glenn Phillips mencetak abad perdana dalam karier Test-nya, mengantar Selandia Baru mengumpulkan 391 run setelah sempat tertatih di hari pertama.
- Keputusan taktik Inggris yang membingungkan, seperti serangan bouncer sejak bola pertama dan keterlambatan memainkan Jofra Archer, membuat mereka kehilangan inisiatif.
- Tanpa Ben Stokes yang diskors, Inggris tampil tanpa kepemimpinan dan disiplin, tertinggal 169 run dengan enam wicket tersisa di hari kedua.

Keputusan taktik yang membingungkan dan kegagalan memanfaatkan peluang membuat Inggris terpuruk di hari kedua Test kedua melawan Selandia Baru di The Oval, London, Jumat (30/8). Tanpa kapten Ben Stokes yang diskors karena melanggar jam malam, tim tuan rumah yang sempat tampil solid di hari pertama justru kehilangan kendali dan kini tertinggal 169 run dengan enam wicket tersisa.
Selandia Baru, yang menginap di 291-7, berhasil mengumpulkan 391 run berkat abad perdana Glenn Phillips (100) dan dukungan Kyle Jamieson (41). Inggris, yang seharusnya bisa membatasi keunggulan lawan, malah kebobolan 100 run tambahan setelah serangkaian kesalahan sendiri. Penjaga gawang Ben Duckett menjatuhkan tangkapan mudah saat Jamieson baru 15, dan kemudian ia sendiri tersingkir karena lari yang salah.
Masalah Inggris dimulai sejak bola pertama hari itu. Mereka menerapkan rencana bouncer kepada Jamieson, namun bola pertama Sonny Baker malah melambung untuk empat bye. Tiga over pertama menghasilkan 27 run, membuat tim tamu langsung mendominasi. Pelatih Brendon McCullum bahkan harus turun ke lapangan untuk berkonsultasi dengan Joe Root yang menjadi kapten pengganti.
Keputusan untuk tidak memainkan Jofra Archer selama 90 menit pertama, termasuk saat bola baru tersedia, menjadi sorotan. Archer baru diperkenalkan setelah part-time spinner Jacob Bethell, dan meskipun ia berhasil mengambil wicket, keterlambatan itu dianggap merugikan. "Archer luar biasa di hari pertama, tapi dengan harga berapa?" tanya para komentator.
Dalam upaya mengejar 391, Inggris sempat mendapat awal yang baik berkat Emilio Gay (53) dan Root (46) yang menambahkan 74 run. Namun, Root dan Harry Brook jatuh berturut-turut karena lbw kepada Matt Henry, membuat skor berubah dari 139-2 menjadi 177-5. James Rew, yang melakukan debut, selamat dari tangkapan yang seharusnya bisa diambil Rachin Ravindra, namun akhirnya menyerah kepada Will O'Rourke. Jordan Cox (22*) dan Jofra Archer (0*) bertahan di akhir hari.
Ketiadaan Stokes terasa jelas. Inggris tampil tanpa pemimpin, disiplin, dan inspirasi. Rencana short-ball yang menjadi favorit Stokes justru menjadi bumerang. "Mungkin terlalu keras mengatakan Inggris kehilangan kaptennya, karena rencana short-ball adalah favoritnya, tapi tuan rumah jelas terlihat tanpa pemimpin," tulis analis BBC Sport. Tanpa Stokes, tim asuhan McCullum tampak kehilangan arah, terutama saat tekanan meningkat.
Bagi penggemar kriket Indonesia, pertandingan ini menjadi pelajaran tentang pentingnya kepemimpinan dan eksekusi taktik. Inggris, yang sedang dalam masa transisi tanpa beberapa pemain inti, menunjukkan bahwa pengalaman dan ketenangan sangat berharga di level tertinggi. Sementara itu, Selandia Baru membuktikan bahwa kerja sama tim dan ketekunan bisa mengubah keadaan.
Dengan dua hari tersisa, Inggris harus berjuang keras untuk menghindari kekalahan. Bisakah mereka bangkit seperti hari pertama, atau akankah Selandia Baru menyapu bersih? Jawabannya akan ditentukan oleh seberapa cepat para pemain muda Inggris belajar dari kesalahan mereka.



