Tangan Tuhan Maradona: Antara Legenda dan Pelanggaran Etika Olahraga
Baca dalam 60 detik
- Gol Tangan Tuhan Maradona pada Piala Dunia 1986 tetap dirayakan di Argentina meskipun merupakan pelanggaran aturan sepak bola.
- Konteks sejarah Perang Falklands dan rivalitas Argentina-Inggris menjadi alasan utama mengapa gol ilegal itu dianggap sebagai simbol pembalasan.
- Para filsuf olahraga menilai bahwa gol tersebut adalah kecurangan yang tidak dapat dibenarkan oleh konteks politik apa pun.

Empat dekade setelah Diego Maradona mencetak dua gol kontroversial dalam satu pertandingan yang sama, dunia sepak bola masih bergulat dengan pertanyaan etis: pantaskah sebuah gol yang diperoleh dengan cara curang dirayakan sebagai simbol kebanggaan nasional? Pada 22 Juni 1986, di Stadion Azteca, Meksiko, Maradona mencetak gol yang kemudian dikenal sebagai "Tangan Tuhan" โ sebuah gol yang jelas-jelas ilegal karena menggunakan tangan โ hanya beberapa menit sebelum ia mempersembahkan "Gol Abad Ini" yang memukau. Kedua gol itu terjadi saat Argentina berhadapan dengan Inggris di perempat final Piala Dunia, sebuah laga yang sarat muatan politik pasca-Perang Falklands 1982.
Bagi rakyat Argentina, gol pertama itu bukan sekadar pelanggaran aturan. Dalam ingatan kolektif mereka, gol tersebut adalah bentuk pembalasan atas kekalahan memalukan dalam perang memperebutkan Kepulauan Malvinas. Hubungan diplomatik antara Argentina dan Inggris saat itu belum pulih, dan pertandingan sepak bola menjadi panggung untuk menyalurkan rasa sakit dan kebanggaan yang terluka. Tidak heran, ketika Presiden Cristina Fernรกndez de Kirchner meresmikan Galeri Idola Populer di Casa Rosada pada 2012, foto momen Maradona meninju bola melewati kiper Peter Shilton ditempatkan di posisi paling menonjol.
Namun, dari sudut pandang etika olahraga, perayaan atas gol tersebut menimbulkan kegelisahan. Seperti diungkapkan oleh filsuf olahraga yang menulis bab dalam buku yang diedit bersama Daniel G. Campos, sepak bola memiliki "nilai-nilai internal" yang menjadi fondasi standar keunggulannya. Nilai-nilai itu terdiri dari keterampilan konstitutif โ seperti menggiring, mengoper, dan menembak bola โ serta keterampilan restoratif yang digunakan saat permainan terhenti. Mencetak gol dengan tangan tidak termasuk dalam kategori mana pun; ia adalah "keterampilan di luar permainan" yang tidak semestinya diuji dan tidak sah dalam pertandingan.
Para filsuf menegaskan bahwa gol dengan tangan adalah bentuk kecurangan yang jelas. Maradona secara sengaja dan sembunyi-sembunyi melanggar aturan untuk mendapatkan keuntungan yang tidak akan ia peroleh secara sah. Tindakan itu mendistorsi pertandingan, merusak hasil, dan tidak menghormati lawan. "Konteks memang penting untuk memahami makna yang diberikan banyak orang Argentina pada gol itu, tetapi konteks tidak bisa membenarkannya," tulis sang filsuf. Dengan kata lain, latar belakang politik yang rumit tidak serta-merta mengubah pelanggaran menjadi tindakan yang patut dirayakan.
Ironisnya, perayaan atas "Tangan Tuhan" justru mengalihkan perhatian dari keindahan sejati yang diperlihatkan Maradona pada gol keduanya. Dalam lari sejauh 60 yard, ia melewati enam pemain Inggris, termasuk kiper, sebelum menyelesaikan dengan tendangan klinis. Jurnalis Brian Glanville menyebut gol itu "mencengangkan, tidak biasa, hampir romantis" dan "nyaris tidak cocok dengan era yang tampak begitu rasional dan teratur seperti zaman kita." Gol itulah yang seharusnya menjadi warisan abadi Maradona, bukan momen kontroversial yang menodai esensi sepak bola.
Bagi Indonesia, kisah ini menyiratkan pelajaran tentang bagaimana kita memaknai kemenangan dan sportivitas. Di tengah euforia mendukung tim kesayangan, batas antara semangat patriotisme dan etika olahraga kerap kabur. Kasus Maradona mengingatkan bahwa tidak semua yang membangkitkan kebanggaan nasional layak diagungkan, terutama jika diperoleh dengan cara yang merusak integritas permainan. Empat puluh tahun kemudian, pertanyaan yang diajukan mahasiswa di Casa Rosada masih relevan: akankah kita terus merayakan kecurangan selama ia dibungkus narasi heroik?



