Promosi ke Premier League Berujung Petaka: Hull City Terancam Denda Poin Akibat Bonus
Baca dalam 60 detik
- Hull City harus menjual pemain senilai £6 juta sebelum 1 Juli untuk menghindari pengurangan enam poin akibat overspend dari bonus promosi.
- Jika gagal, klub akan menjadi tim Premier League pertama yang terkena sanksi PSR di era baru aturan keuangan yang lebih ketat.
- Insiden ini membuka celah hukum bagi rival promosi untuk menuntut kompensasi finansial, mengikuti preseden Everton vs Burnley.

Hull City baru saja merayakan promosi ke Premier League setelah mengalahkan Middlesbrough di final play-off Championship, namun euforia itu langsung diiringi ancaman pengurangan poin yang bisa mengubah peta persaingan di kasta tertinggi Inggris. Klub asal Yorkshire Timur itu harus menjual pemain senilai sekitar £6 juta sebelum 1 Juli untuk menutup pelanggaran aturan Profit and Sustainability (PSR) yang dipicu oleh bonus promosi dalam kontrak pemain.
Menurut analis keuangan sepak bola Kieran Maguire, Hull sebenarnya mencatat kerugian yang "relatif moderat" dalam beberapa musim terakhir berkat penjualan pemain seperti Jaden Philogene dan Jacob Greaves. Namun, bonus promosi yang totalnya mencapai £10-15 juta per skuad secara tidak sengaja mendorong pengeluaran klub melebihi batas maksimal kerugian tiga tahun sebesar £39 juta. "Ini masalah yang tidak terduga, karena bonus hanya dibayarkan jika promosi tercapai," ujar Maguire.
Pemilik Hull, Acun Ilicali, secara blak-blakan mengakui situasi ini dalam sesi tanya jawab dengan suporter awal bulan ini. "Kami kelebihan anggaran dan harus menjual beberapa pemain sebelum 1 Juli. Saya tidak takut, kami sudah menghadapi hal yang lebih sulit," katanya. Namun, pengakuan terbuka itu justru melemahkan posisi tawar klub di meja negosiasi, karena calon pembeli tahu tenggat waktu yang mendesak.
Hull memiliki beberapa aset yang bisa dijual untuk menutup defisit. Bek tengah Charlie Hughes, yang dua kali dinobatkan sebagai pemain muda terbaik klub, serta kiper Ivor Pandur yang masuk skuad Kroasia di Piala Dunia, sudah menarik minat klub lain. Penjualan gelandang serang Kyle Joseph, yang diincar sejumlah klub Championship, diperkirakan bisa menutupi sebagian besar kebutuhan dana. Klub juga bersedia melepas David Akintola, Abu Kamara, dan Kasey Palmer yang musim lalu dipinjamkan.
Jika gagal memenuhi aturan, Hull akan menjadi ujian pertama bagi sistem PSR yang baru, di mana pengurangan poin bersifat tetap berdasarkan grid overspend. Klub tidak bisa mengklaim keringanan karena tren positif, mengingat pelanggaran ini murni akibat bonus promosi. Preseden Leicester City pada 2024 menunjukkan bahwa argumen yurisdiksi tidak lagi berlaku setelah kedua liga memasukkan klausul timbal balik dalam regulasi mereka. Saat itu, Leicester dihukum enam poin oleh EFL dan akhirnya terdegradasi.
Di luar sanksi olahraga, Hull juga menghadapi risiko tuntutan hukum dari rival promosi. Keputusan pengadilan yang mewajibkan Everton membayar £35 juta kepada Burnley karena pelanggaran aturan keuangan menjadi preseden baru. Leeds United dilaporkan sedang mempertimbangkan langkah hukum terkait pelanggaran Leicester di masa lalu. Middlesbrough, yang kalah di final play-off, serta Millwall, Wrexham, dan Derby County—lawan Hull di babak sebelumnya—bisa saja mengajukan gugatan kompensasi.
Bagi sepak bola Indonesia, kasus Hull menjadi pengingat bahwa aturan keuangan yang ketat mulai diterapkan di liga-liga Eropa. Klub-klub Tanah Air yang bermimpi promosi ke Liga 1 atau bahkan berlaga di Asia perlu belajar dari pengalaman ini: bonus promosi yang tidak direncanakan dengan baik bisa menjadi bumerang. Regulasi PSR yang akan digantikan oleh Squad Cost Ratio (SCR) per 1 Juli juga menunjukkan tren global menuju pengelolaan keuangan yang lebih transparan dan berkelanjutan.
Dengan waktu yang semakin sempit, Hull harus bergerak cepat. Jika berhasil menjual pemain sebelum tenggat, mereka bisa fokus membangun skuad untuk Premier League. Namun, jika gagal, ancaman pengurangan poin akan membayangi langkah pertama mereka di kasta tertinggi. Akankah Ilicali mampu mempertahankan status Premier League tanpa harus kehilangan pemain kunci? Atau justru tuntutan hukum dari klub lain yang akan menjadi masalah berikutnya?



