Guillermo del Toro Peringatkan Ancaman AI: ‘Kita di Ambang Buta Sinema’
Baca dalam 60 detik
- Sutradara Guillermo del Toro menyebut kecerdasan buatan sebagai ‘kebodohan alami’ yang mengancam esensi artistik film.
- Dalam pidato di BFI America, del Toro menekankan bahwa gambar buatan AI merusak hubungan sakral antara manusia dan citra.
- Del Toro membandingkan kesombongan kreator AI dengan tokoh Victor Frankenstein, mengingatkan perlunya refleksi sebelum melangkah.

Sutradara pemenang Oscar Guillermo del Toro kembali melontarkan kritik tajam terhadap penggunaan kecerdasan buatan (AI) di industri film. Dalam pidatonya di acara BFI America, Senin (15/6/2025) malam, del Toro memperingatkan bahwa dunia berada di ambang ‘buta sinema’ akibat maraknya konten yang dihasilkan oleh algoritma.
Del Toro, yang dikenal lewat karya seperti The Shape of Water dan Pan’s Labyrinth, menyebut AI sebagai bentuk ‘kebodohan alami’ (natural stupidity). Menurutnya, teknologi ini telah menggerus proses kreatif manusia yang selama ini menjadi jantung pembuatan film. “Kita berada di ambang buta gambar. Kita di ambang buta sinema,” ujarnya di hadapan para pegiat film.
Bagi sineas berusia 61 tahun itu, gambar bukan sekadar representasi visual, melainkan jembatan emosional antara pembuat dan penonton. “Perjanjian antara manusia dan gambar itu sakral, dan saat ini sedang terancam. Kita diberi tahu bahwa gambar bisa dihasilkan secara artifisial. Namun, keberadaan gambar bukan sekadar ada—ia untuk menghubungkan kita, membuat kita merasakan keindahan,” tegasnya.
Del Toro mengaku kini memasuki fase ‘memberi kembali’ dengan mengajar kelas tentang sutradara legendaris seperti Alfred Hitchcock bersama BFI. Ia menolak disebut sebagai penjaga gerbang (gatekeeper), melainkan pemegang gerbang (gate-holder) yang membuka akses bagi lebih banyak orang untuk menikmati sinema. “Saya telah diselamatkan oleh gambar berkali-kali dalam hidup saya,” katanya.
Ini bukan pertama kalinya del Toro menentang AI. Tahun lalu, dalam wawancara dengan NPR, ia menyatakan lebih memilih mati daripada menggunakan AI dalam filmnya. “Saya berusia 61 tahun, dan saya berharap bisa tetap tidak tertarik menggunakannya sampai saya mati,” ujarnya. Bahkan ketika seseorang mengirim surel menanyakan sikapnya terhadap AI, jawabannya singkat: “Saya lebih baik mati.”
Menariknya, del Toro melihat kaitan antara AI dan film terbarunya, Frankenstein (2025), yang dibintangi Oscar Isaac. Ia sengaja menghadirkan karakter Victor Frankenstein sebagai alegori para ‘tech bros’ yang arogan. “Kekhawatiran saya bukan pada kecerdasan buatan, melainkan kebodohan alami. Itulah yang mendorong para guru terburuk di dunia,” ujarnya. “Victor buta, menciptakan sesuatu tanpa memikirkan konsekuensi. Saya pikir kita perlu berhenti sejenak dan mempertimbangkan arah tujuan kita.”
Peringatan del Toro ini relevan bagi industri film Indonesia yang mulai diramaikan oleh konten berbasis AI. Beberapa rumah produksi lokal telah bereksperimen dengan AI untuk pembuatan skrip dan efek visual. Namun, para sineas Tanah Air juga mulai menyuarakan kekhawatiran serupa. Komunitas film independen Indonesia, misalnya, menekankan pentingnya sentuhan manusia dalam bercerita. “AI bisa membantu teknis, tetapi jiwa film tetap lahir dari pengalaman dan empati manusia,” ujar seorang sutradara Jakarta yang enggan disebut namanya.
Di tengah gempuran teknologi, pertanyaan mendasar muncul: akankah sinema sebagai bentuk seni bertahan, atau justru tergerus oleh efisiensi algoritma? Del Toro, setidaknya, telah memberikan pijakan bagi perdebatan ini—bahwa esensi film bukanlah sekadar gambar bergerak, melainkan ikatan batin antara pembuat dan penonton. Tanpa ikatan itu, yang tersisa hanyalah tontonan kosong.