Nigeria Terjebak sebagai Konsumen AI: Infrastruktur Lokal Jadi Kunci
Baca dalam 60 detik
- Para pemangku kepentingan di Nigeria mendesak percepatan investasi infrastruktur AI lokal untuk mengurangi ketergantungan pada platform asing.
- Tanpa pusat data dan model AI buatan sendiri, Nigeria hanya akan menjadi pasar konsumen tanpa nilai tambah ekonomi.
- Lokalisasi lalu lintas internet dan pengembangan talenta digital menjadi prasyarat agar AI dapat mendorong inklusi keuangan dan pertumbuhan.

Nigeria berpotensi hanya menjadi pasar konsumen dalam ekosistem kecerdasan buatan (AI) global jika tidak segera membangun infrastruktur dan kapasitas lokal yang memadai. Peringatan itu mengemuka dalam sesi panel West Africa Telecoms Infrastructure Summit and Exhibition (WATISE) 4.0 di Lagos, Kamis lalu, di mana para pelaku industri menekankan urgensi investasi di pusat data, model AI berbasis data lokal, dan sumber daya manusia.
Chidi Ajuzie, Chief Operating Officer WTES Group, menilai bahwa selama ini Nigeria nyaris tidak terlibat dalam rantai nilai AIโmulai dari manufaktur perangkat keras, komputasi awan, hingga pengembangan model. Ketergantungan pada pemasok asing untuk chip, layanan cloud, dan platform AI menimbulkan persoalan biaya, akses, dan keberlanjutan jangka panjang. โUntuk benar-benar menuai manfaat AI, Nigeria harus beranjak dari sekadar konsumen dan mulai berinvestasi pada kapasitas lokal,โ ujar Ajuzie, seperti dikutip dalam diskusi tersebut.
Ajuzie menambahkan bahwa model AI yang dikembangkan di luar negeri seringkali tidak mampu menangkap konteks bahasa, budaya, dan realitas Afrika. Oleh karena itu, ia mendorong pembangunan dataset lokal dan model AI asli yang relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Investasi di bidang pendidikan, keterampilan digital, keamanan siber, dan infrastruktur menjadi prasyarat untuk membangun ekosistem AI yang kompetitif.
Seun Olorunnisola dari Internet Exchange Point of Nigeria (IXPN) menyoroti pentingnya pertukaran lalu lintas internet lokal. Menurutnya, semakin banyak konten dan layanan AI yang dihosting di dalam negeri, semakin rendah latensi dan semakin baik kualitas layanan. โMenjaga lalu lintas internet tetap di Nigeria akan mengurangi latensi, meningkatkan kualitas layanan, dan menciptakan fondasi yang lebih kuat untuk aplikasi AI,โ jelas Olorunnisola. Ia juga menekankan perlunya tambahan pusat data dan fasilitas komputasi untuk mendukung pelatihan model AI berskala besar di masa depan.
Olusola Teniola, Direktur Inisiatif Bisnis Strategis ipNX, mengidentifikasi aksesibilitas, ketersediaan, dan keterjangkauan sebagai tiga faktor kunci adopsi AI. Ia mendorong Nigeria dan negara Afrika lainnya untuk membangun solusi AI yang sesuai dengan realitas lokal, bukan sekadar mengimpor teknologi. Teniola juga mengingatkan bahwa infrastruktur telekomunikasi adalah tulang punggung inklusi keuangan dan ekonomi digital. โKita harus menciptakan lingkungan di mana investasi infrastruktur dilindungi dan inovasi didorong, sehingga Nigeria dapat bersaing secara efektif dalam ekonomi digital global,โ ujarnya.
Stephen Adeoye, Sekretaris Nasional Asosiasi Agen Inklusi Keuangan Nigeria (AFIAN), menambahkan bahwa AI telah digunakan untuk mendeteksi penipuan dan meningkatkan layanan keuangan. Institusi keuangan dan perusahaan fintech semakin memanfaatkan AI untuk memantau transaksi mencurigakan, mendukung keputusan kredit, dan memperkuat verifikasi nasabah. Namun, ia menekankan pentingnya kesadaran publik dan pendidikan berkelanjutan untuk memastikan penggunaan teknologi digital yang aman dan bertanggung jawab.
Kesimpulan dari diskusi tersebut adalah bahwa masa depan AI di Nigeria sangat bergantung pada tiga pilar: infrastruktur yang kuat, inovasi lokal, dan pengembangan keterampilan digital. Tanpa langkah konkret, Nigeria berisiko tetap menjadi pasar konsumen yang bergantung pada teknologi asing. Pertanyaannya, mampukah pemerintah dan swasta bergerak cepat sebelum kesenjangan digital semakin melebar?



