Grab Naikkan Proyeksi Pendapatan 2026, Saham Menguat 3%
Baca dalam 60 detik
- Grab merevisi naik target pendapatan dan EBITDA 2026, didukung permintaan layanan ride-hailing dan antar makanan yang solid.
- Program pembelian kembali saham senilai US$750 juta menjadi katalis penguatan saham, meski masih tertekan sepanjang tahun.
- Insentif agresif dan ekspansi layanan finansial menjadi strategi kunci Grab dalam menghadapi tekanan biaya bahan bakar.

Jakarta, LyndHub โ Grab Holdings, perusahaan teknologi asal Singapura yang melayani jasa ride-hailing dan pengantaran makanan di Asia Tenggara, mengerek proyeksi pendapatan dan profitabilitas tahun 2026. Langkah ini diambil di tengah optimisme permintaan layanan yang tetap solid, sekaligus menjadi sinyal kepercayaan diri perusahaan di hadapan investor.
Pada Selasa (4/8) waktu setempat, Grab mengumumkan target pendapatan tahun 2026 berada di kisaran US$4,10 miliar hingga US$4,15 miliar, naik dari proyeksi sebelumnya yang hanya US$4,04 miliar hingga US$4,10 miliar. Revisi ini sejalan dengan ekspektasi analis yang mematok angka US$4,12 miliar, berdasarkan data yang dihimpun LSEG.
Perusahaan juga menaikkan perkiraan laba operasional tahunan yang disesuaikan (adjusted EBITDA) menjadi US$720 juta hingga US$740 juta, dari sebelumnya US$700 juta hingga US$720 juta. Kabar ini langsung mendorong saham Grab yang tercatat di Nasdaq naik 3% dalam perdagangan setelah jam bursa, meski secara year-to-date sahamnya masih tertekan lebih dari 26%.
Kinerja kuartal kedua menjadi pendorong utama revisi ini. Pendapatan Grab tumbuh 22% menjadi US$997 juta, melampaui perkiraan analis yang sebesar US$990,8 juta. Nilai transaksi bruto (GMV) untuk segmen mobilitas dan pengantaran melonjak 21% menjadi US$6,5 miliar, ditopang oleh pertumbuhan jumlah pengguna aktif.
Grab, yang melayani 54 juta pengguna di lebih dari 900 kota, mengalokasikan US$706 juta untuk insentif pelanggan dan mitra pengemudi sepanjang kuartal tersebut. Dari jumlah itu, lebih dari US$7 juta dialokasikan khusus untuk menopang pendapatan pengemudi di tengah kenaikan harga bahan bakar akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Untuk menarik pelanggan yang semakin sensitif terhadap harga, Grab memperkenalkan sejumlah fitur baru seperti penggabungan pesanan (order bundling) dan layanan berbiaya rendah bernama โSaverโ. Fitur ini menyasar konsumen yang ingin menghemat pengeluaran di tengah tekanan inflasi. Selain itu, perusahaan juga mempercepat ekspansi layanan pengantaran bahan makanan dan bisnis jasa keuangan, termasuk pinjaman dan asuransi bagi mitra pengemudi dan pedagang di platformnya.
Bagi pasar Indonesia, langkah Grab ini patut dicermati. Sebagai salah satu pasar terbesar di Asia Tenggara, Indonesia menjadi barometer keberhasilan strategi ekspansi Grab. Kehadiran fitur โSaverโ dan insentif besar-besaran berpotensi memicu perang tarif dengan kompetitor lokal seperti GoTo, yang juga tengah berupaya mempertahankan pangsa pasar. Analis menilai bahwa keberhasilan Grab dalam menjaga pertumbuhan di Indonesia akan menjadi kunci untuk mempertahankan kepercayaan investor global.
โGrab menunjukkan bahwa mereka mampu beradaptasi dengan kondisi pasar yang menantang, terutama dengan fokus pada efisiensi biaya dan layanan bernilai tambah,โ ujar seorang analis teknologi yang enggan disebutkan namanya. โNamun, tekanan dari kompetisi dan biaya operasional tetap menjadi risiko yang harus diwaspadai.โ
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Grab dapat mempertahankan momentum pertumbuhan ini sepanjang tahun, terutama jika kondisi ekonomi global memburuk. Dengan program pembelian kembali saham senilai US$750 juta, perusahaan tampaknya berusaha meyakinkan pasar bahwa fundamental bisnisnya kuat. Namun, investor tetap akan memantau perkembangan kuartal berikutnya untuk melihat apakah proyeksi yang dinaikkan ini benar-benar dapat direalisasikan.



