Hwang Inbeom: Perjalanan dari Anak Ajaib Daejeon Menjadi Pilar Korea di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Hwang Inbeom dinobatkan sebagai Pemain Terbaik dalam laga perdana Korea di Piala Dunia 2026, mencetak gol dan assist dalam kemenangan 2-1 atas Ceko.
- Mantan rekan setimnya di Daejeon Citizen dan Vancouver Whitecaps memuji visi, teknik, dan dedikasinya yang telah terlihat sejak usia 18 tahun.
- Karier Hwang melesat dari K League ke MLS, Rusia, hingga Feyenoord, dan kini ia menjadi andalan Korea di panggung dunia.

Gelandang serba bisa Korea Selatan, Hwang Inbeom, kembali membuktikan kelasnya setelah dinobatkan sebagai pemain terbaik dalam laga perdana Piala Dunia 2026. Satu gol dan satu assist yang ia sumbangkan menjadi kunci kemenangan dramatis 2-1 atas Ceko, sekaligus menegaskan perannya sebagai motor permainan Taegeuk Warriors di Amerika Utara.
Perjalanan Hwang menuju panggung terbesar sepak bola dunia tidaklah instan. Ia memulai karier profesional di klub kampung halamannya, Daejeon Citizen, pada 2015. Saat itu, bek asal Spanyol Alvaro Silva yang baru bergabung dengan klub K League 1 tersebut langsung terkesima. "Bahkan di usia 18 tahun, ia sudah menonjol. Sebelum bola sampai, dia sudah tahu apa yang akan dilakukan. Dia pemain fenomenal," kenang Silva. Ia bahkan merekomendasikan Hwang ke mantan rekan setimnya yang menjabat direktur olahraga Malaga, Francesc Arnau, meski negosiasi tidak membuahkan hasil.
Setelah bersinar di Daejeon, Hwang pindah ke Vancouver Whitecaps pada 2019 untuk merasakan Major League Soccer. Di sana, ia berduet dengan gelandang Spanyol Jon Erice. "Dia pemain teknis, berkaki dua, dan punya kekuatan tubuh bagian bawah luar biasa. Kehalusan tekniknya tidak menghalangi dia untuk tekel. Kuat dan bagus di udara untuk pemain setingginya," ujar Erice. Keduanya membentuk kemitraan yang solid, dan Erice mengakui bahwa Hwang memiliki pemahaman taktik yang luar biasa.
Ambisi Hwang untuk bermain di Eropa akhirnya terwujud pada 2020 saat ia direkrut Rubin Kazan. Di Rusia, ia berbagi lapangan dengan bintang Paris Saint-Germain, Khvicha Kvaratskhelia, dalam hampir 30 pertandingan. Setelah masa pinjaman di FC Seoul dan petualangan di Yunani serta Serbia, Hwang mendarat di Feyenoord pada 2024. Kini, di usia yang hampir menginjak 30 tahun, ia menjadi salah satu pemain kunci Korea Selatan yang diandalkan di Piala Dunia 2026.
Kisah Hwang menginspirasi banyak pemain muda Asia, termasuk di Indonesia, yang kerap mencari celah untuk menembus sepak bola Eropa. Jalur karier yang tidak linear—dari K League ke MLS, lalu Rusia, dan akhirnya Eredivisie—menunjukkan bahwa kerja keras dan konsistensi dapat membuka pintu ke panggung tertinggi. Bagi pengamat sepak bola Indonesia, perjalanan Hwang menjadi contoh bahwa pemain Asia bisa bersaing di level elite dengan mengasah kemampuan teknis dan taktis sejak dini.
Mantan rekan setimnya, Erice, menutup dengan penuh kebanggaan: "Saat saya bangun dan melihat dia jadi pemain terbaik, saya sangat senang. Tapi itu tidak mengejutkan karena dia memang sebagus itu." Pertanyaannya kini: mampukah Hwang mempertahankan performa ini dan membawa Korea Selatan melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026?



