Messi Samai Rekor Klose, Ungkap Alasan Tangis di Laga Pembuka Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Lionel Messi mencetak hat-trick pertamanya di Piala Dunia saat Argentina mengalahkan Aljazair 3-0, menyamai rekor gol terbanyak sepanjang masa milik Miroslav Klose (16 gol).
- Messi mengaku menangis setelah gol pertamanya karena masalah pribadi di luar sepak bola, bukan karena emosi pertandingan.
- Penampilan gemilang ini membungkam keraguan soal kebugarannya dan memperkuat status Argentina sebagai kandidat kuat juara bertahan.

Lionel Messi menangis setelah mencetak gol pembuka dalam kemenangan 3-0 Argentina atas Aljazair di laga perdana Grup J Piala Dunia 2026, Kamis (12/6) waktu setempat. Namun, air mata itu bukan karena gol semata-mata, melainkan masalah pribadi yang menurutnya sama sekali tidak terkait sepak bola.
"Kenapa saya menangis? Itu adalah sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan sepak bola," ujar Messi seusai pertandingan di Stadion Kansas City. "Saya melewati beberapa hari yang sulit, tetapi saya berterima kasih kepada seluruh delegasi dan rekan setim karena selalu ada di sisi saya, memberi saya kekuatan untuk melewatinya."
Messi, yang tampil dalam penampilan ke-200 bersama timnas Argentina, mencetak hat-trick pertamanya di ajang Piala Dunia. Gol-gol itu membawa total koleksinya di turnamen ini menjadi 16 gol, menyamai rekor legenda Jerman, Miroslav Klose, sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia. Selain itu, ia juga menjadi pemain pertama yang tampil di enam edisi Piala Dunia, tepat 20 tahun sejak debutnya pada 2006.
Kemenangan ini juga menjadi pertama kalinya Argentina memenangi laga pembuka sebagai juara bertahan, setelah sebelumnya kalah pada 1982 dan 1990. Penampilan Messi sekaligus menjawab keraguan soal kebugarannya setelah ia ditarik keluar lebih awal karena kelelahan otot di pertandingan MLS bersama Inter Miami sebulan sebelumnya.
Gelandang Argentina, Alexis Mac Allister, memuji performa Messi. "Tidak ada kata-kata untuk menggambarkannya. Jika ada yang mengira tim ini lebih baik tanpa Leo, hari ini terbukti sebaliknya. Dia adalah pemain terpenting kami. Kami harus membangun tim di sekelilingnya, dan kami sedang melakukannya," ujarnya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, momen Messi ini menjadi pengingat akan pentingnya dukungan mental bagi atlet. Di tengah tekanan besar sebagai ikon global, Messi menunjukkan bahwa kerentanan adalah bagian dari perjalanan juara. Argentina kini bersiap menghadapi Austria pada 22 Juni mendatang. Bisakah Messi memimpin timnya menjadi juara bertahan ketiga dalam sejarah Piala Dunia?



