AirAsia X Batalkan Pesanan 15 Airbus A330-900, Beralih ke Armada Jarak Jauh yang Lebih Efisien
Baca dalam 60 detik
- Airbus mengkonfirmasi pembatalan pesanan 15 unit A330-900 oleh AirAsia X melalui kesepakatan bersama, menandai perubahan strategi armada grup.
- Langkah ini mengikuti pergeseran AirAsia Group menuju pesawat narrow-body jarak jauh, seperti A321XLR, yang lebih hemat bahan bakar dan fleksibel.
- Keputusan tersebut berpotensi mempengaruhi persaingan di pasar penerbangan Asia, termasuk rute ke Eropa yang sebelumnya dilayani A330-900.

Airbus secara resmi mengkonfirmasi bahwa AirAsia X telah membatalkan pesanan 15 pesawat A330-900 melalui kesepakatan bersama, mengakhiri kontrak yang sebelumnya menjadi bagian dari ekspansi jarak jauh maskapai berbiaya rendah tersebut. Langkah ini menandai perubahan haluan strategis AirAsia Group yang kini lebih fokus pada pesawat narrow-body berdaya jelajah panjang.
Dalam pernyataan kepada Bernama, juru bicara Airbus menyatakan bahwa pembatalan dilakukan secara mutual tanpa sengketa. Meski demikian, AirAsia X enggan memberikan komentar lebih lanjut. Keputusan ini mengonfirmasi spekulasi yang beredar sejak awal tahun, ketika grup tersebut justru memesan 50 unit Airbus A321XLRโpesawat berbadan sempit yang mampu terbang hingga 11 jam non-stop.
Pesanan A330-900 sebelumnya ditujukan untuk melayani rute non-stop dari Kuala Lumpur ke London dan kota-kota Eropa lainnya. Namun, dengan hadirnya A321XLR, AirAsia Group menilai bahwa efisiensi bahan bakar dan fleksibilitas rute menjadi prioritas utama di tengah tekanan biaya operasional yang meningkat. Pesawat narrow-body jarak jauh memungkinkan maskapai mengoperasikan rute yang lebih ramping dengan frekuensi lebih tinggi, tanpa harus mengandalkan pesawat wide-body yang lebih mahal.
Keputusan AirAsia X mencerminkan tren global di kalangan maskapai berbiaya rendah yang mulai merambah rute jarak jauh. JetBlue, Wizz Air, dan beberapa operator lain juga telah beralih ke pesawat narrow-body untuk menekan biaya. Di Asia, pergeseran ini berpotensi mengubah peta persaingan, terutama di rute-rute yang sebelumnya didominasi oleh maskapai full-service dengan pesawat wide-body.
Bagi Indonesia, langkah AirAsia X menjadi sinyal bahwa maskapai di kawasan mulai mengadopsi model operasi yang lebih efisien. Maskapai seperti Lion Air Group dan Garuda Indonesia mungkin perlu mempertimbangkan ulang strategi armada jarak jauh mereka. Apalagi, dengan meningkatnya permintaan perjalanan pasca-pandemi, efisiensi biaya menjadi kunci untuk tetap kompetitif. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah maskapai lain akan mengikuti jejak AirAsia X, atau justru tetap bertahan dengan pesawat wide-body konvensional.


