Durian 2026: Petani Hadapi Cuaca Ekstrem, Pedagang Beralih ke Teknologi
Baca dalam 60 detik
- Pasokan durian dari Malaysia ke Singapura diperkirakan menurun akibat curah hujan tinggi yang mempengaruhi kualitas buah.
- Pedagang mulai mengandalkan livestreaming untuk menjangkau lebih banyak konsumen di tengah persaingan yang semakin ketat.
- Startup seperti Spike Durian menggunakan teknologi pembekuan elektromagnetik untuk memperpanjang masa simpan durian hingga enam bulan.

Musim durian puncak yang berlangsung antara Juni hingga September tahun ini dibayangi ketidakpastian cuaca, yang berpotensi menekan kualitas dan volume panen. Para pedagang di Singapura, yang menjadi salah satu pasar utama durian Malaysia, mulai mengubah strategi penjualan dan mengadopsi teknologi untuk mengamankan pasokan.
Curah hujan tinggi yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir menjadi kekhawatiran utama. Menurut para penjual, durian yang terkena hujan berlebihan cenderung memiliki rasa hambar atau tidak matang sempurna. โJika kualitas durian buruk, harga akan sangat murah. Tidak peduli seberapa banyak hasil panennya,โ ujar Jeremy Chew, pendiri Royal Durian, toko spesialis Musang King. Kondisi ini memaksa para pemasok untuk lebih selektif dalam memilih sumber buah.
Austin Quak, salah satu pendiri Rolling Durian, mengaku saat ini lebih mengandalkan pasokan dari Perak dan Penang, yang dinilai memiliki kualitas lebih stabil dibandingkan Johor dan Pahang. Ia juga mencatat bahwa penjualan daring melalui siaran langsung (livestreaming) meningkat sekitar 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. โDengan livestreaming, kami bisa melayani banyak pelanggan sekaligus, tidak seperti toko fisik yang harus melayani satu per satu,โ jelasnya.
Persaingan di kanal digital pun semakin ketat. Banyak pedagang menawarkan diskon dan paket promosi untuk menarik konsumen. Namun, di balik tren ini, sejumlah perusahaan mulai melirik solusi teknologi jangka panjang. Spike Durian, sebuah perusahaan rintisan asal Singapura, mengadopsi teknologi medan elektromagnetik dalam proses pembekuan. Durian yang dipanen di Pahang diproses dan dibekukan dalam waktu lima jam, sehingga dapat bertahan setidaknya enam bulan. Pendiri Spike Durian, Christopher Quek, mengungkapkan bahwa permintaan tidak hanya datang dari Asia Utara, tetapi juga dari Amerika Serikat dan Inggris. โTantangan terbesar kami saat ini adalah menjaga kualitas dari pemasok durian,โ tambahnya.
Sementara itu, 99 Old Trees Durian mengandalkan stok beku untuk bertahan di luar musim panen. Sekitar 80 persen penjualan mereka saat musim panen berasal dari durian segar, namun perusahaan menyimpan hingga 9 ton durian setiap tahun untuk diolah menjadi aneka hidangan penutup seperti es krim, mousse, dan kue. โDi luar musim, hidangan penutuplah yang membuat kami tetap berjalan,โ kata Kelvin Tan, salah satu pendiri perusahaan tersebut. Mereka juga memproduksi pasta durian yang dipasok ke lima toko roti dan kedai es krim di Singapura.
Bagi Indonesia, yang juga merupakan produsen durian besar, tren ini menawarkan pelajaran berharga. Teknologi pembekuan dan diversifikasi produk dapat menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan pada musim panen dan fluktuasi cuaca. Pertanyaannya, akankah pelaku industri durian di Indonesia segera mengadopsi langkah serupa, atau justru tertinggal dalam persaingan pasar regional?


