Hugh Jackman Bungkam Legenda Robin Hood: Pahlawan Rakyat atau Bandit Kejam?
Baca dalam 60 detik
- Film terbaru Hugh Jackman, The Death of Robin Hood, menggambarkan tokoh legendaris itu sebagai bandit kejam, memicu perdebatan di tengah krisis biaya hidup dan ketimpangan ekonomi.
- Catatan sejarah abad pertengahan justru menunjukkan Robin Hood sebagai simbol perlawanan terhadap otoritas korup dan pengumpul dana komunitas, bukan penjahat berdarah dingin.
- Penggambaran ulang ini dinilai tidak peka secara sosial dan mengabaikan akar cerita rakyat yang mengedepankan keadilan sosial dan solidaritas.

Film terbaru yang dibintangi Hugh Jackman, The Death of Robin Hood, memicu kontroversi dengan menggambarkan sang pahlawan rakyat sebagai bandit kejam dan pembunuh. Dalam cuplikan yang beredar, Robin Hood yang terluka di tahun 1247 direnungkan sebagai sosok “jahat dan haus darah” – sebuah pembalikan citra yang dianggap banyak pihak tidak peka di tengah krisis biaya hidup dan meningkatnya ketimpangan sosial.
Penggambaran ulang ini bukanlah hal baru. Sejak abad ke-16, para penasihat kerajaan sudah melarang pertunjukan Robin Hood karena dianggap mengajarkan rakyat untuk melawan pejabat. Namun, di era modern, ketika kesenjangan ekonomi semakin tajam dan otoritarianisme menguat, membalikkan narasi pahlawan rakyat menjadi penjahat terasa seperti langkah yang salah arah. Sebuah komentar di Reddit menyebutnya “tone deaf” – tidak peka terhadap semangat zaman yang justru membutuhkan figur pembela kaum miskin.
Kritik juga menyasar konteks personal Jackman. Penampilannya di pesta ulang tahun Rupert Murdoch yang ke-95, yang dihadiri keluarga Trump, membuat langkah ini terkesan berpihak pada kelompok yang selama ini menjadi musuh dalam cerita Robin Hood: para elit korup dan penguasa yang serakah.
Sejarawan mencatat bahwa Robin Hood versi abad pertengahan bukanlah bandit haus darah, melainkan pahlawan aksi yang menjunjung tinggi nilai-nilai komunitas. Dalam pertunjukan rakyat yang digelar setiap musim semi dan panas, pria berdandan seperti Robin Hood dan Little John menggalang dana untuk proyek-proyek publik, seperti perbaikan gereja atau bantuan sosial. Kehadiran mereka menandakan bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki di komunitas tersebut – bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengingatkan kewajiban bersama.
Musuh Robin Hood bukanlah penguasa secara umum, melainkan otoritas yang korup. Ia setia kepada raja, tetapi menentang pejabat kota yang serakah dan rohaniwan yang tamak. Dalam tradisi sastra, kekerasan hanya menjadi pilihan terakhir; senjata utamanya adalah rasa bersalah dan malu. Ia menuntut yang lebih baik dari audiensnya dan memberi teladan.
Bagi Indonesia, kisah Robin Hood memiliki resonansi tersendiri. Di tengah maraknya kasus korupsi dan kesenjangan ekonomi, figur yang membela rakyat kecil dan menentang ketidakadilan tetap relevan. Penggambaran ulang yang membalikkan citra tersebut bisa dianggap sebagai upaya untuk mendelegitimasi semangat perlawanan rakyat. Apakah kita benar-benar membutuhkan versi pahlawan yang “jahat” di saat banyak pihak justru merindukan keadilan?
Pertanyaan yang tersisa: apakah The Death of Robin Hood akan menjadi kritik sosial yang mendalam atau sekadar sensasi belaka? Yang jelas, perdebatan tentang siapa sebenarnya Robin Hood – pahlawan atau penjahat – akan terus berlanjut, dan jawabannya mungkin lebih bergantung pada siapa yang bercerita daripada fakta sejarah itu sendiri.



