Konflik Iran Paksa Asia Tenggara Percepat Diversifikasi Energi
Baca dalam 60 detik
- IEA memperingatkan bahwa ketergantungan pada jalur Hormuz membuat Asia Tenggara rentan terhadap krisis energi.
- Tanpa reformasi, tagihan impor energi kawasan bisa melonjak tiga kali lipat menjadi US$245 miliar pada 2035.
- Perang justru mendorong adopsi energi terbarukan dan kendaraan listrik, meski batu bara masih jadi jaring pengaman.

Konflik bersenjata di Iran telah menjadi ujian nyata bagi ketahanan energi Asia Tenggara, yang selama ini terlalu bergantung pada pasokan minyak dan gas yang melintasi Selat Hormuz. Dalam laporan terbaru yang dirilis Selasa (16/6), International Energy Agency (IEA) menyebut situasi ini sebagai 'panggilan bangun' yang menyakitkan bagi kawasan.
Menurut IEA, ketergantungan berlebih pada satu jalur transit energi membuat negara-negara Asia Tenggara sangat rentan terhadap guncangan geopolitik. Jika tidak segera melakukan diversifikasi sumber energi, tagihan impor energi kawasan diproyeksikan melonjak dari US$80 miliar pada 2024 menjadi US$245 miliar pada 2035. Angka itu tiga kali lipat lebih besar dan berpotensi menggerus anggaran pembangunan.
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menekankan bahwa diversifikasi sumber dan rute pasokan energi kini menjadi prioritas utama. โKawasan tidak bisa lagi mengandalkan satu jalur atau satu jenis energi,โ ujarnya. Pernyataan itu mengacu pada fakta bahwa sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, dan konflik Iran langsung mengancam stabilitas harga serta ketersediaan energi.
Laporan IEA juga mencatat bahwa perang telah memicu lonjakan adopsi energi terbarukan di tingkat rumah tangga. Di Filipina, yang sempat menyatakan darurat energi nasional, permintaan panel surya atap melonjak drastis. Ivan Cano dari perusahaan tenaga surya EcoSolutions di Manila mengatakan, โIni pertama kalinya saya melihat lonjakan permintaan sebesar ini.โ Filipina bahkan menjadi tujuan ekspor panel surya China terbesar kedua pada kuartal pertama 2026, dengan volume impor tiga kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sektor transportasi, penjualan kendaraan listrik (EV) di Asia Tenggara lebih dari dua kali lipat pada 2025, mencapai sekitar setengah juta unit. IEA mencatat bahwa satu dari lima mobil yang terjual di kawasan kini bertenaga listrik. Laos bahkan mengambil langkah radikal dengan melarang impor kendaraan berbahan bakar fosil hingga akhir 2026 untuk mengurangi ketergantungan pada minyak impor.
Namun, IEA juga mengingatkan bahwa krisis energi justru memperkuat ketergantungan pada batu bara dalam jangka pendek. Batu bara masih menjadi andalan saat pasokan gas terganggu, sehingga target penghentian penggunaan fosil bisa mundur. Di sisi lain, minat terhadap energi nuklir kembali menguat, terutama di Indonesia, Vietnam, dan Filipina. Namun, proses konstruksi dan regulasi yang panjang membuat timeline pengoperasian masih belum pasti.
Sam Reynolds dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) menilai laporan IEA menegaskan bahwa Asia Tenggara berada di persimpangan jalan. โMeski ada kesepakatan gencatan senjata di Iran, harga bahan bakar fosil kemungkinan tetap tinggi. Ini akan mendorong percepatan transisi ke energi bersih,โ ujarnya.
Bagi Indonesia, laporan ini menjadi pengingat bahwa ketahanan energi nasional tidak bisa hanya mengandalkan satu sumber. Dengan potensi panas bumi, surya, dan angin yang melimpah, diversifikasi bukan lagi pilihan melainkan keharusan. IEA merekomendasikan peningkatan efisiensi jaringan listrik nasional dan investasi besar-besaran di semua bentuk energi terbarukan, termasuk hidro dan panas bumi.
โKonflik Timur Tengah adalah ujian stres bagi sistem energi Asia Tenggara sekaligus katalis untuk perubahan struktural,โ tulis laporan IEA. Pertanyaannya, akankah para pemimpin kawasan mengambil momentum ini untuk benar-benar bertransformasi, atau justru kembali ke kebiasaan lama saat tekanan mereda?