Kota Kecil di Kansas Jadi 'Rumah Kedua' Aljazair: Cinta Sepak Bola Tanpa Batas
Baca dalam 60 detik
- Lawrence, kota berpenduduk 100.000 jiwa di Kansas, menjadi markas timnas Aljazair selama Piala Dunia dan menyambut mereka dengan antusiasme luar biasa.
- Warga setempat menggelar kelas 'Soccer 101', memasak makanan halal, dan bahkan ada yang menampung suporter Aljazair di rumah mereka.
- Fenomena ini menunjukkan bagaimana Piala Dunia mampu menjembatani perbedaan budaya dan menciptakan ikatan emosional yang kuat antara tuan rumah dan tamu.

Sebuah kota kecil di jantung Amerika Serikat, Lawrence, Kansas, mendadak berubah menjadi miniatur Aljazair. Bendera hijau-putih dengan bulan sabit merah berkibar di mana-mana, restoran lokal menyajikan menu halal, dan ratusan warga berjejer menyambut skuad 'The Foxes' seolah mereka adalah pahlawan sendiri. Ini bukan sekadar sambutan biasa—ini adalah kisah cinta Piala Dunia yang lahir di tempat yang tak terduga.
Aljazair memilih Lawrence sebagai base camp mereka selama turnamen, dan kota yang biasanya tenang itu langsung berdenyut dengan semangat sepak bola. Ruth DeWitt, direktur hubungan masyarakat biro pariwisata Explore Lawrence, mengungkapkan bahwa persiapan sudah dimulai sejak Februari. "Kami ingin memastikan mereka merasa diterima. Lawrence telah menggelar karpet merah dengan berbagai cara," ujarnya. Kota ini bahkan mengadakan kelas 'Soccer 101' untuk mengajarkan aturan sepak bola kepada warga lokal, sekaligus mengenalkan budaya Aljazair.
Kedatangan tim disambut oleh ratusan penggemar di jalanan, sementara sesi latihan terbuka di Rock Chalk Park dipadati warga yang antusias berinteraksi dengan pemain. Komunitas Aljazair yang tinggal di Missouri, sekitar 40 mil dari Lawrence, juga turut meramaikan suasana dengan datang setiap hari untuk melihat idola mereka. Tak hanya itu, DeWitt bahkan menampung Wassini Souarit, suporter Aljazair asal Minneapolis, di rumahnya selama turnamen. "Kami mengadopsi mereka sebagai tim tuan rumah. Ini persis seperti apa yang dikatakan orang tentang Piala Dunia—koneksi yang begitu kuat," katanya.
Seniman bumi Stan Herd turut menyumbang karyanya: instalasi raksasa bendera Aljazair di kampus Universitas Kansas yang bisa dilihat dari atap gedung. "Kota kecil ini benar-benar merangkul mereka. Restoran mulai memasak halal, dan kami mulai lebih mencintai sepak bola daripada football Amerika," ujar Herd yang berusia 76 tahun. Menurutnya, turnamen ini mempertemukan orang-orang yang mungkin selama ini hanya saling berpapasan di jalan.
Fenomena ini mengingatkan pada momen-momen Piala Dunia sebelumnya di mana tuan rumah kecil mampu menciptakan ikatan mendalam dengan tim tamu. Bagi Indonesia, kisah Lawrence bisa menjadi inspirasi tentang bagaimana sepak bola dapat menjadi jembatan budaya. Meski Indonesia belum menjadi tuan rumah Piala Dunia, semangat keramahtamahan seperti ini bisa diterapkan dalam even olahraga internasional lainnya, seperti Asian Games atau Piala Dunia U-20. Momen seperti ini juga menunjukkan bahwa dampak Piala Dunia tidak hanya terbatas pada stadion, tetapi juga pada komunitas lokal yang membuka hati dan rumah mereka.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah Lawrence tetap menjadi 'Aljazair kecil' setelah turnamen berakhir? Atau justru ini menjadi awal dari tradisi baru dalam menyambut tamu internasional? Yang jelas, bagi warga Lawrence, Piala Dunia telah memberikan pengalaman yang tak terlupakan—dan mungkin, mengubah cara pandang mereka terhadap sepak bola selamanya.



