Gempa M 6,7 Guncang Sulteng: 42 Kali Susulan Terjadi, Kerusakan Mulai Terdata
Baca dalam 60 detik
- Gempa bumi magnitudo 6,7 di Parigi Moutong, Sulteng, memicu 42 gempa susulan dalam tiga jam pertama, dengan magnitudo bervariasi dari 2 hingga 5.
- Dampak awal meliputi keretakan Jembatan III Palu, longsor di Gunung Kamarora, dan kerusakan bangunan di beberapa kabupaten, sementara akses jalan di Napu terputus.
- BPBD masih melakukan pendataan menyeluruh, sementara BMKG memperingatkan potensi gempa susulan lanjutan dan mengimbau kewaspadaan masyarakat.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah mencatat sedikitnya 42 gempa susulan setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang Kabupaten Parigi Moutong pada Selasa (16/6) siang. Guncangan utama yang terjadi pukul 10.27 WITA itu tidak hanya dirasakan di pusat gempa, tetapi juga meluas ke Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Poso, memicu kekhawatiran akan potensi kerusakan lebih lanjut.
Kepala BPBD Sulawesi Tengah, Asbudianto, mengungkapkan bahwa hingga pukul 13.38 WITA, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi puluhan guncangan susulan dengan magnitudo yang bervariasi. "Dari total 42 kali gempa susulan, satu kali berkekuatan sekitar magnitudo 5, sepuluh kali sekitar magnitudo 4, 31 kali sekitar magnitudo 3, dan empat kali sekitar magnitudo 2," jelasnya dalam keterangan resmi.
Berdasarkan analisis BMKG, episenter gempa utama berada di darat sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu dengan kedalaman dangkal 10 kilometer. Kedalaman yang relatif dekat dengan permukaan ini menyebabkan guncangan terasa kuat dan memicu serangkaian aftershock. Asbudianto menambahkan bahwa hasil monitoring BMKG menunjukkan aktivitas seismik masih berlangsung di sekitar titik gempa utama, sehingga masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan berikutnya.
Dampak awal gempa mulai terlihat di sejumlah daerah. Di Kota Palu, Jembatan III Palu dilaporkan mengalami keretakan, sementara beberapa bangunan lainnya juga mengalami kerusakan. Di Kabupaten Sigi, longsor terjadi di kawasan Gunung Kamarora yang mengakibatkan saluran air terputus, berpotensi mengganggu pasokan air bersih bagi warga sekitar. Sementara itu, di Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Poso, sejumlah bangunan dilaporkan rusak, meskipun rincian lebih lanjut masih dalam pendataan. Akses jalan di wilayah Napu juga mengalami kerusakan, yang dapat menghambat mobilitas dan distribusi bantuan.
Hingga saat ini, BPBD di tingkat kabupaten/kota masih melakukan pendataan menyeluruh untuk memastikan total kerusakan dan korban jiwa. "Seluruh BPBD setempat masih melakukan pendataan," ujar Asbudianto. Belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa, namun kerusakan infrastruktur dan potensi bencana sekunder seperti longsor menjadi perhatian utama. Masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan dari otoritas setempat, serta menjauhi bangunan yang retak atau tidak stabil.
Ke depan, perhatian akan tertuju pada perkembangan aktivitas seismik dan efektivitas respons darurat. Apakah BPBD dan BMKG mampu memberikan peringatan dini yang cukup untuk meminimalkan risiko? Dengan sejarah gempa dahsyat di Palu pada 2018, pengalaman tersebut diharapkan menjadi pelajaran berharga dalam penanganan bencana kali ini.