Masa Depan Rashford di Persimpangan: Klub Ogah Tebus, MU Enggan Nego
Baca dalam 60 detik
- Barcelona memilih tidak mengaktifkan klausul pembelian permanen Marcus Rashford senilai £26 juta, membuat pemain Inggris itu kembali ke Manchester United pada 1 Juli.
- MU tengah berupaya menekan biaya gaji, namun kontrak Rashford senilai £325.000 per pekan selama dua tahun menjadi kendala utama dalam rencana restrukturisasi skuad.
- Jika performa Rashford moncer di Piala Dunia 2026, peluang transfer ke klub lain seperti Bayern Munchen atau Aston Villa bisa terbuka, tetapi MU tak bisa memaksanya pergi ke klub yang tak diinginkan.

Marcus Rashford kembali menjadi teka-teki di Old Trafford setelah Barcelona memutuskan tidak mempermanenkan statusnya. Klub asal Katalan itu membiarkan batas waktu klausul pembelian senilai £26 juta lewat tanpa tindakan, memaksa pemain sayap berusia 27 tahun itu kembali ke pangkuan Manchester United pada 1 Juli mendatang—tepat saat ia bersiap membela Inggris di babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Atlanta.
Keputusan Barcelona bukanlah kejutan. Rashford memang tampil cukup produktif dengan 14 gol dan 14 assist dalam 49 pertandingan di semua ajang, namun kedatangan Anthony Gordon dari Newcastle United dengan banderol £69,3 juta membuat posisinya di Camp Nou semakin terpinggirkan. Manajer Hansi Flick tampaknya lebih memilih Gordon sebagai opsi utama di sisi sayap, meninggalkan Rashford sebagai pemain pelapis yang mahal.
Di sisi lain, Manchester United tengah berada dalam tekanan finansial. Salah satu pemilik minoritas, Sir Jim Ratcliffe, bertekad menekan biaya gaji klub. Kontrak Rashford yang mencapai £325.000 per pekan dengan sisa dua tahun menjadi beban yang sulit dihilangkan. Apalagi, nomor punggung 10 miliknya kini telah diberikan kepada Matheus Cunha, menandakan bahwa skuad asuhan Michael Carrick sudah tidak lagi memperhitungkannya dalam rencana jangka panjang.
Namun, situasi ini tidak sesederhana menjual pemain. Aturan baru FIFA yang tertuang dalam nota kesepahaman dengan serikat pemain global Fifpro memberikan hak kepada pemain yang diasingkan dari skuad utama untuk menuntut pembebasan kontrak dan pembayaran penuh. Ruben Amorim, yang kini telah hengkang ke AC Milan, pernah menempatkan Rashford dalam 'bomb squad' musim lalu—sebuah langkah yang kini sulit diulang karena konsekuensi hukumnya.
Manchester United berharap Rashford tampil gemilang di Piala Dunia 2026 untuk meningkatkan nilai jualnya. Bayern Munchen disebut-sebut sebagai peminat potensial, sementara Aston Villa—tempat Rashford menghabiskan paruh kedua musim 2024-25—juga berpeluang merekrutnya kembali, apalagi setelah lolos ke Liga Champions. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan pemain: United tidak bisa menjualnya ke klub yang tidak ia inginkan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisruh ini mengingatkan pada dilema yang kerap dihadapi klub-klub Eropa ketika pemain bintang dengan gaji selangit tidak lagi masuk rencana. Di tengah gencarnya investasi klub-klub Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dalam mendatangkan pemain asing, kasus Rashford menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya klausul kontrak yang fleksibel dan perencanaan skuad yang matang.
Jendela transfer musim panas akan ditutup pada 1 September. Dalam rentang tiga pekan antara berakhirnya kampanye Piala Dunia Inggris dan dimulainya pramusim MU, Rashford harus menentukan langkah. Akankah ia bertahan dan berjuang merebut tempat di Old Trafford, atau memilih petualangan baru di klub lain? Satu hal yang pasti: masa depannya kini berada di tangannya sendiri.



