Kritik Pedas Eks Bintang Italia: Piala Dunia 48 Tim Hanya Lelucon Bisnis
Baca dalam 60 detik
- Mantan bek timnas Italia Fulvio Collovati mengecam keras Presiden FIFA Gianni Infantino atas format Piala Dunia 48 tim yang dinilai mengorbankan kualitas pertandingan demi keuntungan komersial.
- Collovati menyebut banyak peserta turnamen tidak layak secara teknis, dengan contoh laga Meksiko vs Afrika Selatan dan Jerman vs Curacao yang dianggapnya tidak kompetitif.
- Kritik ini memicu perdebatan tentang arah sepak bola global, di mana negara-negara besar seperti Italia justru terpinggirkan sementara tim lemah mendapat jatah tiket.

Fulvio Collovati, bek legendaris yang membawa Italia juara Piala Dunia 1982, melontarkan kritik tajam kepada Presiden FIFA Gianni Infantino. Ia menilai keputusan memperluas turnamen menjadi 48 tim pada edisi 2026 lebih mengutamakan bisnis ketimbang kualitas permainan. Baginya, format ini hanya lelucon yang tidak lucu.
Dalam wawancara dengan FCInter1908, Collovati menyoroti pernyataan Infantino yang menyebut Italia mungkin akan lolos jika Piala Dunia diperluas menjadi 64 tim. โLelucon yang tidak membuat orang tertawa bukanlah lelucon. Karena dia punya kewarganegaraan Swiss, lain kali bercandalah dengan orang Swiss,โ ujarnya sinis.
Collovati juga mengkritik rendahnya kualitas beberapa peserta turnamen. Ia mencontohkan pertandingan Meksiko versus Afrika Selatan yang dikomentarinya di radio. โDi Afrika Selatan, saya sendiri bisa bermain di usia saya sekarang. Minggu depan saya akan mengomentari Jerman versus Curacao, dan saya perkirakan situasinya sama,โ katanya. Baginya, tim-tim seperti Curacao tidak layak tampil di panggung sepak bola tertinggi.
Kritik Collovati tidak berhenti di situ. Ia menuduh Infantino hanya berpura-pura menjadi teman pesepak bola Italia, namun justru melontarkan pukulan rendah. โDia harus malu. Pertama dia bertingkah seperti teman, lalu dia menyerang. Jika ingin mengkritik sepak bola Italia, lakukan secara terbuka,โ tegasnya.
Bagi Indonesia, perdebatan ini relevan mengingat antusiasme publik terhadap Piala Dunia tetap tinggi. Meski Timnas Indonesia belum pernah lolos, format baru membuka peluang lebih besar bagi negara berkembang. Namun, kritik Collovati mengingatkan bahwa kualitas pertandingan harus tetap dijaga agar turnamen tidak kehilangan gengsi. Pengamat sepak bola Indonesia, seperti dikutip dari beberapa analis, menilai bahwa ekspansi berlebihan justru bisa menurunkan standar kompetisi dan membuat laga-laga awal menjadi tidak menarik.
Kontroversi lain muncul ketika jurnalis Alessandro Alciato mengungkit pernyataan lama Collovati yang menyebut wanita tidak bisa memahami taktik sepak bola. Hal ini mengingatkan bahwa sang legenda sendiri tidak luput dari kontroversi. Namun, terlepas dari itu, kritiknya terhadap Infantino dan format Piala Dunia tetap menjadi peringatan bagi FIFA untuk tidak melupakan esensi olahraga demi keuntungan komersial.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah FIFA akan mendengarkan suara kritis seperti Collovati atau terus melaju dengan rencana ekspansi yang kontroversial. Dengan Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, tekanan untuk mempertahankan kualitas pertandingan semakin besar. Akankah turnamen ini tetap menjadi panggung terbaik sepak bola dunia, atau justru berubah menjadi festival yang kehilangan ruh kompetisi?



