Naira Menguat ke N1.356 per Dolar, Cadangan Devisa Nigeria Tembus Level Tertinggi sejak 2009
Baca dalam 60 detik
- Naira menguat ke N1.356 per dolar AS di pasar resmi, sementara cadangan devisa Nigeria melonjak ke $50,5 miliar, tertinggi dalam 16 tahun.
- Penguatan didorong oleh aliran masuk dari penjualan minyak dan pasokan valas yang melimpah di pasar paralel, dengan kurs mencapai N1.390 per dolar.
- Namun, harga minyak mentah dunia justru anjlok 5% menyusul kesepakatan AS-Iran yang membuka kembali Selat Hormuz, berpotensi menekan pendapatan migas Nigeria ke depan.

Naira Nigeria mencatat penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat di pasar valuta asing resmi, seiring cadangan devisa negara itu menyentuh level tertinggi sejak 2009. Mata uang lokal ditutup di posisi N1.356,2704 per dolar di Nigerian Foreign Exchange Market (NFEM), naik dari N1.363,8250 per dolar pada pekan sebelumnya, berdasarkan data harian Bank Sentral Nigeria (CBN).
Pergerakan ini mencerminkan berkurangnya tekanan permintaan valas di pasar resmi. Transaksi internasional di jendela resmi terjadi pada kisaran N1.354,5 hingga N1.360 per dolar, menandakan tidak adanya lonjakan pembayaran valas yang signifikan. Di pasar paralel, naira bahkan lebih perkasa dengan menyentuh N1.390 per dolar, didorong oleh pasokan dari para pedagang valas (Bureau de Change) yang melampaui permintaan.
Penguatan naira terjadi di tengah lonjakan cadangan devisa bruto Nigeria yang mencapai $50,505 miliarโtertinggi sejak Januari 2009. Posisi ini ditopang oleh aliran masuk dari penjualan minyak bumi, yang menjadi andalan utama pendapatan negara. Namun, kabar baik bagi naira ini kontras dengan kondisi pasar minyak global yang justru tertekan.
Harga minyak mentah dunia ambles pada Senin (7/4) ke level terendah dalam lebih dari tiga bulan. Brent crude, acuan global, jatuh 5% menjadi $82,91 per barelโlevel terendah sejak 5 Maret, saat serangan udara AS-Israel terhadap Iran dimulai. Minyak mentah AS juga terpuruk 5,5% ke $80,21 per barel. Penurunan ini dipicu oleh kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang mengakhiri blokade pelabuhan Iran dan membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital pengangkutan minyak dunia.
Bagi Nigeria, penurunan harga minyak menjadi ancaman serius. Meskipun cadangan devisa saat ini kuat, pendapatan migas tetap menjadi tulang punggung fiskal negara. Jika harga minyak terus tertekan, tekanan terhadap naira bisa kembali muncul dalam jangka menengah. Analis memperkirakan bahwa kesepakatan AS-Iran berpotensi menambah pasokan minyak global, sehingga harga berisiko bertahan rendah dalam beberapa bulan ke depan.
Di sisi lain, penguatan naira saat ini menunjukkan kepercayaan pasar terhadap kebijakan moneter CBN yang agresif dalam menstabilkan kurs. Namun, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Nigeria mempertahankan momentum ini di tengah gejolak harga minyak dan ketidakpastian ekonomi global? Semua mata kini tertuju pada langkah CBN selanjutnya.



