Microsoft Dikabarkan Tutup Dua Studio Gim pada Akhir Tahun, Obsidian dan Rare Aman
Baca dalam 60 detik
- Microsoft diperkirakan akan menutup setidaknya dua studio gim dalam 100 hari ke depan sebagai bagian dari rencana 'reset' divisi Xbox.
- Kepastian studio mana yang akan ditutup belum diumumkan, namun Obsidian Entertainment dan Rare dipastikan tidak terdampak.
- Langkah ini berpotensi memicu gelombang PHK dan mengubah peta persaingan industri gim global, termasuk di Indonesia.

Microsoft dikabarkan akan menutup setidaknya dua studio gim miliknya sebelum akhir tahun ini, sebagai bagian dari rencana 'reset' besar-besaran divisi Xbox yang diumumkan pekan lalu. Langkah ini diprediksi akan memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan mengguncang industri gim global.
Informasi tersebut disampaikan oleh jurnalis Insider Gaming, Mike Straw, melalui akun media sosialnya. Straw menegaskan bahwa studio yang akan ditutup bukanlah Obsidian Entertainment atau Rareโdua pengembang ternama di bawah naungan Microsoft. "Bukan Obsidian atau Rare, bagi yang sudah bertanya. Saya sedang berusaha mendapatkan detail lebih lanjut tentang apa yang dirasakan karyawan saat ini. Tapi gambaran besarnya bisa lebih jelas dalam beberapa pekan mendatang, tergantung keputusan yang diambil. Semua opsi ada di meja Xbox," tulis Straw.
Rencana 'reset' Xbox sebelumnya diumumkan oleh Asha Sharma, eksekutif Microsoft, yang menyebutkan bahwa perusahaan akan melakukan perubahan signifikan dalam 100 hari ke depan. The Verge juga sempat melaporkan kemungkinan penutupan satu studio, namun Straw mengoreksi bahwa jumlahnya bisa lebih banyak. Langkah ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengamat industri, mengingat Microsoft baru saja mengakuisisi Activision Blizzard senilai 69 miliar dolar AS pada 2023.
Konteks Indonesia: Meskipun dampak langsung mungkin tidak terasa, penutupan studio ini berpotensi mempengaruhi ketersediaan gim Xbox di pasar Indonesia. Banyak gim populer seperti Halo dan Forza dikembangkan oleh studio internal Microsoft. Jika terjadi PHK massal, jadwal rilis gim-gim tersebut bisa tertunda, yang berarti konsumen Indonesia harus menunggu lebih lama untuk judul-judul baru. Selain itu, langkah ini juga menjadi sinyal bahwa raksasa teknologi seperti Microsoft tengah melakukan efisiensi besar-besaran di tengah persaingan ketat dengan Sony dan Nintendo.
Menurut analis industri, penutupan studio ini kemungkinan besar menyasar pengembang yang kinerjanya di bawah ekspektasi atau yang proyeknya tidak sejalan dengan strategi jangka panjang Microsoft. "Microsoft sedang merapikan portofolio studionya. Mereka ingin fokus pada judul-judul besar yang bisa bersaing di pasar global. Studio kecil yang tidak menghasilkan keuntungan signifikan menjadi sasaran paling mungkin," ujar seorang pengamat yang enggan disebut namanya.
Ke depan, keputusan Microsoft ini akan menjadi ujian bagi strategi konten Xbox. Dengan penutupan studio, apakah Microsoft mampu mempertahankan aliran gim eksklusif yang berkualitas? Atau justru sebaliknya, langkah ini akan memperlemah posisi Xbox di tengah dominasi PlayStation? Jawabannya mungkin baru akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan, saat rencana 'reset' mulai berjalan.



