Kepala Xbox Game Studios Craig Duncan Mundur, Hanya 18 Bulan Menjabat
Baca dalam 60 detik
- Craig Duncan, yang memimpin Xbox Game Studios sejak November 2024, mengundurkan diri setelah hanya 18 bulan menjabat.
- Selama masa transisi, studio-studio Xbox akan melapor langsung ke Matt Booty, Chief Content Officer Xbox.
- Louise O'Connor, Chief of Staff Xbox Game Studios, juga meninggalkan perusahaan, menambah gejolak di divisi game Microsoft.

Gelombang perubahan di divisi game Microsoft belum mereda. Craig Duncan, yang baru menjabat sebagai kepala Xbox Game Studios pada November 2024, memutuskan hengkang dari perusahaan. Keputusan ini diumumkan pekan ini, hanya 18 bulan setelah ia mengambil alih kendali studio internal Xbox.
Duncan bukan nama baru di ekosistem Xbox. Sebelum memimpin Xbox Game Studios, ia mengelola Rare—pengembang di balik Sea of Thieves—selama hampir 14 tahun. Selama masa kepemimpinannya, Rare berhasil memperkuat portofolio game eksklusif Xbox dan memperluas jangkauan ke platform lain. Namun, masa jabatannya di puncak hierarki studio justru berumur pendek.
Hingga berita ini diturunkan, Microsoft belum menunjuk pengganti Duncan. Sebagai langkah sementara, seluruh studio di bawah Xbox Game Studios akan melapor langsung kepada Matt Booty, Chief Content Officer Xbox. Booty sebelumnya juga menangani urusan konten dan pengembangan game di tingkat korporat.
Tidak hanya Duncan, Louise O'Connor—yang baru setahun menjabat sebagai Chief of Staff Xbox Game Studios—juga meninggalkan Microsoft. Kepergian dua eksekutif kunci ini menimbulkan tanda tanya besar mengenai arah strategi game Microsoft ke depan, terutama di tengah persaingan ketat dengan Sony dan Nintendo.
Bagi para pengamat industri, pergantian kepemimpinan yang cepat ini bisa menjadi sinyal adanya tekanan internal di Microsoft untuk mempercepat produksi game eksklusif berkualitas tinggi. Xbox Game Studios menaungi puluhan tim pengembang, termasuk 343 Industries, Turn 10 Studios, dan Playground Games. Namun, beberapa game andalan seperti Halo Infinite dan Forza Motorsport menuai kritik karena kurangnya konten atau masalah teknis saat rilis.
Di Indonesia, kabar ini mungkin tidak langsung berdampak pada konsumen, namun bisa memengaruhi ketersediaan game-game Xbox di masa depan. Pasar game Indonesia yang didominasi gim seluler dan PC perlahan mulai melirik konsol, termasuk Xbox Series X|S. Jika Microsoft gagal mempertahankan momentum pengembangan game eksklusif, daya tarik ekosistem Xbox di Indonesia bisa tergerus.
Langkah Microsoft selanjutnya akan menjadi sorotan. Apakah mereka akan mencari pemimpin baru dari luar atau mempromosikan dari internal? Atau justru ini awal dari restrukturisasi besar-besaran di divisi game? Satu hal yang pasti: para gamer Indonesia patut mencermati perkembangan ini, karena masa depan game-game favorit mereka mungkin ikut ditentukan.