Ketegangan Bungie-Sony Makin Memanas: PHK Massal 50% Karyawan dan Penghentian Destiny 2
Baca dalam 60 detik
- Bungie dikabarkan akan melakukan PHK hingga 50% staf, dipicu oleh kerugian Destiny 2 yang terus membengkak.
- Ketegangan internal muncul karena keputusan menghentikan Destiny 2, dengan sebagian karyawan PlayStation menolak langkah tersebut.
- Server Destiny 2 tetap berjalan tanpa pembaruan baru, menandai akhir dukungan untuk game FPS legendaris ini.

Ketegangan antara Bungie dan Sony memasuki babak baru setelah laporan mengungkapkan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang mencapai setengah dari total karyawan studio. Keputusan ini tidak lepas dari kinerja finansial Destiny 2 yang terus merugi dan perbedaan visi antara kedua perusahaan dalam strategi game sebagai layanan (GAAS).
Menurut jurnalis Forbes Paul Tassi, persepsi tentang "balas dendam" Sony terhadap Bungie lebih banyak berasal dari pengamat internal PlayStation, bukan dari pimpinan puncak. Ia menegaskan bahwa tidak ada satu pun pihak di Bungie yang ingin melawan Sony. "Destiny 2 menghabiskan biaya lebih besar daripada pendapatannya, dan terlalu banyak orang yang bekerja di proyek itu," ujar Tassi. Ia juga menambahkan bahwa Sony tidak menyalahkan Bungie atas kegagalan inisiatif GAAS mereka.
Sementara itu, laporan dari BFMTV yang dikutip oleh jurnalis Sylvain Trinel mengungkapkan adanya resistensi internal yang kuat. Banyak karyawan PlayStation tidak memahami keputusan manajemen puncak untuk menghentikan pengembangan Destiny 2. "Yang menonjol adalah perlawanan internal yang kuat. Banyak orang di PlayStation tidak mengerti keputusan untuk menghentikan D2," tulis Trinel di media sosial. Ia juga menyebut adanya "keinginan balas dendam" yang menyebar di Bungie, di mana Sony dianggap menyalahkan studio atas kegagalan strategi GAAS mereka.
Konteks ini menjadi penting bagi industri game di Indonesia, di mana Bungie memiliki basis penggemar yang cukup besar. Penghentian dukungan untuk Destiny 2 berarti para pemain di Tanah Air harus bersiap dengan konten yang stagnan, meskipun server masih aktif. Langkah PHK massal juga menjadi sinyal bahwa tekanan finansial di industri game global semakin nyata, dan bisa berdampak pada keputusan investasi studio-studio lain di Asia Tenggara.
Paul Tassi juga mengklarifikasi bahwa kesuksesan pembaruan terbaru Destiny 2 tidak akan mengubah masa depan game tersebut. "Pekerjaan pada FPS ini benar-benar sudah berakhir," tegasnya. Dengan tidak adanya update atau hotfix, Destiny 2 perlahan akan memasuki fase "life support", di mana server tetap hidup tanpa konten baru. Keputusan ini menandai berakhirnya era salah satu game tembak-menembak paling ikonik dalam satu dekade terakhir.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana Sony akan mengelola Bungie setelah gelombang PHK ini. Apakah studio tersebut akan difokuskan pada proyek baru, atau justru akan mengalami restrukturisasi lebih dalam? Yang jelas, hubungan antara pengembang dan publisher kini berada di titik kritis, dan keputusan-keputusan dalam beberapa bulan ke depan akan menentukan arah Bungie selanjutnya.



