Transaksi Rupiah-Renminbi Tembus US$13 Miliar dalam Empat Bulan, BI Dorong De-Dolarisasi
Baca dalam 60 detik
- Bank Indonesia mencatat nilai penyelesaian transaksi bilateral menggunakan mata uang lokal (LCT) antara Indonesia dan China mencapai US$13 miliar hanya dalam empat bulan pertama 2026.
- Angka ini setara dengan lebih dari 70% total realisasi LCT sepanjang tahun lalu yang sebesar US$18 miliar, menunjukkan percepatan adopsi rupiah dan renminbi dalam perdagangan dan investasi.
- Langkah ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi mata uang untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS sekaligus mendukung internasionalisasi renminbi.

Bank Indonesia (BI) melaporkan nilai transaksi yang diselesaikan dengan mata uang lokal (local currency settlement/LCT) antara Indonesia dan China melonjak menjadi US$13 miliar hingga akhir April 2026. Capaian dalam empat bulan itu sudah mendekati tiga perempat dari total realisasi sepanjang tahun lalu yang sebesar US$18 miliar, menandakan akselerasi signifikan dalam upaya mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan pertumbuhan LCT RI-China dalam empat bulan terakhir berlangsung lebih cepat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. "Tahun lalu US$18 miliar, tahun ini empat bulan saja mencapai US$13 miliar," ujarnya dalam paparan hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis (18/6). Menurut Perry, mekanisme penyelesaian perdagangan dan investasi langsung menggunakan rupiah dan renminbi secara langsung menekan kebutuhan dolar dalam berbagai transaksi bilateral.
Percepatan ini tidak lepas dari dorongan BI agar perbankan dan pelaku usaha di kedua negara semakin intensif menggunakan mata uang masing-masing. "Kita sebut diversifikasi dan akan terus diperkuat. Kami terus mendorong perbankan dan pengusaha dalam negeri, begitu juga Tiongkok, agar semakin banyak menggunakan rupiah-renminbi. Ini sejalan dengan internasionalisasi renminbi," kata Perry. Ia menambahkan bahwa kemajuan ini mencakup tidak hanya LCT, tetapi juga infrastruktur pembayaran end-to-end yang mendukung transaksi bilateral.
Bagi Indonesia, akselerasi LCT memiliki implikasi strategis. Dengan semakin banyaknya transaksi yang menggunakan rupiah, volatilitas nilai tukar akibat fluktuasi dolar dapat diredam. Di sisi lain, penguatan kerja sama moneter dengan Chinaโmitra dagang terbesar Indonesiaโjuga memperkuat posisi tawar dalam negosiasi perdagangan dan investasi. Langkah ini juga sejalan dengan visi ASEAN untuk mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan intra-kawasan guna mengurangi kerentanan terhadap guncangan eksternal.
Namun, tantangan tetap ada. Adopsi LCT masih terbatas pada sektor tertentu dan belum merata di semua lini bisnis. Diperlukan sosialisasi lebih luas serta penyederhanaan prosedur agar pengusaha kecil dan menengah turut merasakan manfaatnya. Selain itu, infrastruktur pembayaran digital antarnegara perlu terus diperkuat agar transaksi berjalan efisien dan aman.
Ke depan, keberhasilan program LCT akan sangat bergantung pada komitmen perbankan dan pelaku usaha di kedua negara. Pertanyaannya, bisakah Indonesia dan China mempertahankan momentum ini hingga akhir tahun, atau bahkan melampaui target yang telah ditetapkan? Jika tren saat ini berlanjut, bukan tidak mungkin nilai LCT tahun ini bisa menembus dua kali lipat capaian tahun lalu, mempercepat realisasi de-dolarisasi di kawasan.



