Dasco Apresiasi BI: Rupiah Makin Perkasa, Ketergantungan pada Dolar AS Terus Ditekan
Baca dalam 60 detik
- Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad memuji langkah Bank Indonesia yang memperluas kerja sama bilateral currency swap dengan China dan Hong Kong.
- Kesepakatan ini memungkinkan transaksi ekspor-impor senilai US$154,5 miliar menggunakan rupiah dan renminbi, mengurangi dominasi dolar AS.
- Integrasi QRIS lintas batas antara Indonesia dan China juga mulai diimplementasikan, memudahkan pembayaran antar pelaku usaha.

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad memberikan apresiasi tinggi kepada Bank Indonesia atas langkah strategis memperkuat posisi rupiah dalam transaksi internasional melalui kerja sama dengan bank sentral China dan Hong Kong. Menurut Dasco, kebijakan ini menjadi bukti keseriusan Indonesia dalam mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat, terutama di sektor perdagangan dan keuangan lintas negara.
Apresiasi tersebut disampaikan menyusul penandatanganan perjanjian Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) antara Gubernur BI Perry Warjiyo dan Gubernur People's Bank of China (PBOC) Pan Gongsheng di Shanghai pada 11 Juni 2026. Dalam kesempatan yang sama, juga diteken Memorandum of Understanding (MoU) perluasan implementasi Local Currency Transaction (LCT) yang kini mencakup Hong Kong, ditandatangani bersama Chief Executive Hong Kong Monetary Authority (HKMA) Eddie Yue.
Dasco menilai kesepakatan ini membuka peluang besar bagi transaksi antara Indonesia, China Daratan, dan Hong Kong menggunakan mata uang lokal masing-masing, yakni rupiah dan renminbi. Dengan demikian, kebutuhan akan dolar AS dalam perdagangan bilateral dapat ditekan secara signifikan. Pada 2025, total transaksi ekspor-impor Indonesia-China tercatat mencapai US$154,5 miliar, dan dengan skema LCT, sebagian besar transaksi tersebut berpotensi beralih ke mata uang lokal.
Selain memperluas penggunaan mata uang lokal, kedua negara juga sepakat mengimplementasikan QRIS lintas batas. Sistem ini memungkinkan pelaku usaha Indonesia dan China melakukan transaksi pembayaran secara langsung melalui kode QR yang telah terhubung antarnegara. Saat ini, sudah ada 191 penyedia layanan pembayaran di China dan 24 penyedia di Indonesia yang saling terintegrasi dalam sistem tersebut. Dasco menilai langkah ini akan mempercepat dan mempermudah transaksi bisnis, sekaligus mengurangi biaya konversi mata uang.
Menurut Dasco, semakin luas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional akan memperkuat posisi rupiah dan mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar yang kerap dipicu oleh pergerakan dolar AS. "Ini upaya yang sangat serius dalam mengurangi kebutuhan dolar Amerika Serikat untuk transaksi dagang. Termasuk digunakannya QRIS lintas negara antara Indonesia-China," jelas Dasco dalam keterangannya.
Kerja sama antara BI, PBOC, dan HKMA ini juga dinilai sebagai langkah strategis untuk memperdalam integrasi ekonomi dan keuangan Indonesia dengan mitra dagang utamanya di Asia. Dengan semakin berkurangnya ketergantungan pada dolar AS, stabilitas nilai tukar rupiah diharapkan lebih terjaga, terutama di tengah ketidakpastian global. Bagi pelaku usaha Indonesia, langkah ini membuka peluang efisiensi biaya transaksi dan mengurangi eksposur terhadap risiko nilai tukar.
Ke depan, perluasan skema LCT dan integrasi QRIS diharapkan tidak hanya terbatas pada China dan Hong Kong, tetapi juga bisa menjangkau negara-negara mitra dagang utama lainnya. Pertanyaannya, sejauh mana kesiapan infrastruktur keuangan domestik dan adopsi pelaku usaha untuk memanfaatkan fasilitas ini secara optimal?



