Rupiah Terperosok ke Rp17.730, Pasar Menanti Sinyal The Fed dan BI
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,23% ke Rp17.730 per dolar AS pada Rabu (17/6), membalikkan penguatan hari sebelumnya.
- Pelemahan terjadi di tengah antisipasi pasar terhadap keputusan suku bunga The Fed yang merupakan rapat pertama era Kevin Warsh.
- Bank Indonesia diperkirakan akan kembali mengetatkan kebijakan moneter setelah sebelumnya menaikkan BI Rate secara agresif.

Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu (17/6/2026), ditutup melemah 0,23% ke posisi Rp17.730 per dolar AS. Pelemahan ini membalikkan penguatan tipis yang terjadi pada awal pekan, saat rupiah sempat menyentuh level Rp17.690 per dolar AS.
Sepanjang hari, rupiah dibuka di zona merah pada Rp17.735 per dolar AS dan terus bertahan di level rendah hingga penutupan. Indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat tipis 0,01% ke 99,554, menunjukkan penguatan greenback yang masih terbatas. Pelaku pasar global cenderung menahan diri menjelang pengumuman suku bunga Federal Reserve malam nanti, yang menjadi perhatian utama karena merupakan rapat kebijakan pertama di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.
The Fed diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuan, namun pernyataan kebijakan dan proyeksi ekonomi akan dicermati untuk melihat arah kebijakan ke depan. Pasar ingin tahu apakah The Fed akan mulai meninggalkan bias pelonggaran, mengingat risiko inflasi yang masih tinggi. Di sisi lain, dolar AS sempat melepas sebagian penguatan safe haven setelah muncul rincian kesepakatan sementara AS-Iran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah, namun ketidakpastian tetap membayangi.
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang mulai berlangsung hari ini dan akan diumumkan hasilnya besok, Kamis (18/6). RDG kali ini menjadi krusial setelah BI mengambil langkah agresif dalam beberapa waktu terakhir. Pada pekan lalu, BI secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% melalui RDG mingguan, setelah sebelumnya menaikkan 50 basis poin dalam RDG bulanan. Langkah ini menunjukkan keseriusan BI dalam menahan tekanan terhadap rupiah.
Pasar kini mencermati apakah BI akan kembali memberikan sinyal kebijakan ketat, terutama setelah rupiah kembali melemah. Kombinasi antara ekspektasi kebijakan The Fed yang hawkish dan langkah agresif BI menciptakan dinamika yang menarik bagi investor. Bagi pelaku pasar Indonesia, pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan akan sangat dipengaruhi oleh hasil RDG BI dan pernyataan The Fed, yang dapat menentukan arah aliran modal asing.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah BI akan menaikkan suku bunga lagi untuk menstabilkan rupiah, atau justru menahan diri melihat potensi perlambatan ekonomi. Sementara itu, keputusan The Fed akan menjadi pemicu volatilitas jangka pendek. Investor disarankan untuk mencermati pernyataan kebijakan kedua bank sentral tersebut sebelum mengambil posisi.



