Irankunda Bungkam Kritikus, Australia Pede Hadapi AS
Baca dalam 60 detik
- Nestory Irankunda menjadi pencetak gol termuda Australia di Piala Dunia setelah membawa timnya menang 2-0 atas Turki.
- Pelatih Tony Popovic melakukan revolusi dengan menurunkan skuad termuda dalam sejarah Socceroos di Piala Dunia.
- Kemenangan ini membawa Australia sejajar dengan AS di puncak Grup D, menjelang duel di Seattle pada 19 Juni.
Nestory Irankunda, pemain muda Australia kelahiran Tanzania, langsung menjadi sorotan setelah mencetak gol dan membawa Socceroos mengalahkan Turki 2-0 pada laga perdana Grup D Piala Dunia 2026 di Vancouver. Gol tersebut tidak hanya mengukuhkan kemenangan bersejarah, tetapi juga membungkam keraguan yang sempat menghantui tim termuda dalam sejarah Australia di ajang ini.
Pelatih Tony Popovic mengambil risiko besar dengan menurunkan starting XI berusia rata-rata 24,6 tahunโtermuda yang pernah dimainkan Australia di Piala Dunia. Keputusan menepikan kapten Mathew Ryan dan wakilnya Jackson Irvine sempat menuai kritik. Namun, kepercayaan pada pemain seperti kiper Patrick Beach (22 tahun) dan gelandang Paul Okon-Engstler terbukti membuahkan hasil.
Irankunda, yang baru berusia 20 tahun pada Februari lalu, menjadi bintang lapangan. Ia memanfaatkan umpan terobosan Okon-Engstler pada menit ke-28, menunjukkan kecepatan, kontrol bola, dan penyelesaian akhir yang tenang melewati kiper Turki, Ugurcan Cakir. Gol itu menjadikannya pencetak gol termuda Australia sepanjang sejarah Piala Dunia.
Seusai pertandingan, Irankunda mengungkapkan bahwa selebrasi shadow boxing-nya adalah penghormatan untuk legenda Australia, Tim Cahill. "Dia inspirasi terbesar saya dalam sepak bola Australia. Saya ingin menunjukkan kepada anak-anak muda bahwa siapa pun yang Anda kagumi, suatu hari Anda bisa seperti mereka," ujarnya kepada FIFA. Gol ini juga mengingatkan pada kemenangan Australia atas Jepang 2-0 di Piala Dunia 2006 yang dimotori Cahill.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, performa Irankunda menjadi pengingat akan pentingnya pembinaan usia muda dan keberanian pelatih dalam merotasi skuad. Australia, yang kerap menjadi rival Indonesia di level Asia, kini menunjukkan bahwa regenerasi pemain bisa berjalan cepat tanpa mengorbankan hasil. Langkah Popovic bisa menjadi studi kasus bagi tim-tim Asia Tenggara yang tengah membangun skuad untuk masa depan.
Dengan hasil ini, Australia naik ke puncak klasemen Grup D bersama Amerika Serikat, yang juga meraih kemenangan di laga perdana. Kedua tim akan bertemu di Seattle pada 19 Juni mendatang. Irankunda menegaskan bahwa timnya belum puas. "Kami tahu apa yang bisa kami lakukan. Itu bukan performa terbaik kami, tapi kami bermain maksimal. Bagi yang meragukan kami, masih ada banyak hal yang akan datang," katanya.
Pertanyaan selanjutnya: mampukah Australia mempertahankan performa ini melawan tuan rumah Amerika Serikat? Atau justru Irankunda dan kawan-kawan akan kembali mengejutkan dunia?



