Gagal Raih Pasar, Kwalee Labs PHK Massal Seluruh Karyawan Sebulan Setelah Rilis Luna Abyss
Baca dalam 60 detik
- Luna Abyss, game aksi-petualangan garapan Kwalee Labs, resmi dirilis pada 21 Mei lalu namun gagal menarik perhatian gamer.
- Kurang dari sebulan setelah perilisan, seluruh karyawan studio di-PHK, diumumkan langsung oleh CEO Hollie Emery melalui LinkedIn.
- Nasib kelanjutan game tersebut masih belum jelas, sementara para pengembang kini harus mencari peluang baru di tengah industri yang kompetitif.

Kurang dari sebulan setelah merilis game terbarunya, Luna Abyss, studio pengembang Kwalee Labs justru mengalami nasib pahit: seluruh karyawan di-PHK. Pengumuman mengejutkan ini disampaikan langsung oleh CEO perusahaan, Hollie Emery, melalui akun LinkedIn-nya pekan ini, menandai akhir yang tragis bagi tim yang baru saja meluncurkan produk mereka.
Luna Abyss, yang dirilis pada 21 Mei lalu untuk konsol dan PC, merupakan game aksi-petualangan orang ketiga dengan narasi mendalam, dipadukan elemen platforming dan pertempuran bullet-hell yang intens. Meski memiliki konsep yang menjanjikan, game tersebut gagal mencuri perhatian pasar. Tanpa dukungan penjualan yang memadai, kondisi finansial studio yang sudah rapuh semakin terpuruk, hingga akhirnya memaksa langkah drastis tersebut.
Keputusan PHK massal ini menyoroti betapa kerasnya industri game saat ini, di mana bahkan rilis produk baru tidak menjamin kelangsungan hidup studio. Menurut analis industri, persaingan yang ketat dan perubahan preferensi pemain membuat banyak game indie kesulitan menembus kebisingan pasar. Kwalee Labs, yang sebelumnya dikenal lewat game-game mobile kasual, tampaknya belum berhasil mentransfer kesuksesan itu ke ranah konsol dan PC.
Bagi industri game di Indonesia, kabar ini menjadi pengingat akan pentingnya strategi pemasaran dan manajemen risiko. Banyak studio lokal yang juga merilis game dengan anggaran terbatas, dan kasus Kwalee Labs menunjukkan bahwa kualitas konten saja tidak cukup. Dukungan dari platform seperti Steam, serta keterlibatan komunitas, menjadi faktor krusial untuk bertahan. Beberapa pengembang Tanah Air mulai melirik model pendanaan alternatif, seperti crowdfunding atau kemitraan dengan penerbit global, untuk mengurangi ketergantungan pada penjualan langsung.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi mengenai kelanjutan Luna Abyss. Pertanyaan besar yang menggantung: apakah game ini akan diambil alih studio lain, atau justru ditinggalkan begitu saja? Sementara itu, para pengembang yang terkena PHK kini harus bersaing di pasar tenaga kerja yang semakin sempit, di mana banyak studio lain juga melakukan efisiensi. Langkah Kwalee Labs ini bisa menjadi studi kasus tentang betapa rentannya sebuah studio game terhadap dinamika pasar yang cepat berubah.



