Dua Pelaku Percobaan Penculikan Lansia di PIK Teridentifikasi, Polisi Masih Buru
Baca dalam 60 detik
- Polisi mengidentifikasi dua terduga pelaku percobaan penculikan terhadap seorang lansia di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, yang terjadi pada April lalu.
- Korban berhasil lolos setelah melakukan perlawanan fisik dan berteriak, membuat pelaku panik dan melarikan diri.
- Motif penculikan masih didalami, sementara warga sekitar diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap modus kejahatan serupa.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8258568/original/058592500_1781361837-1001372734.jpg)
Polisi memburu dua orang yang diduga terlibat dalam percobaan penculikan terhadap seorang lansia berusia 70 tahun di kawasan elite Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara. Peristiwa yang terekam kamera pengawas itu viral di media sosial dan memicu kekhawatiran publik akan keamanan di lingkungan permukiman kelas atas.
Kanit Reskrim Polsek Metro Penjaringan AKP Sampson Sosa Hutapea mengonfirmasi bahwa penyidik telah mengidentifikasi dua terduga pelaku, meski belum menangkap keduanya. “Sudah teridentifikasi dua terduga pelaku,” ujarnya, Minggu (14/6/2026). Identitas pelaku masih dirahasiakan demi kepentingan penyelidikan.
Peristiwa terjadi pada 16 April 2026 sekitar pukul 06.55 WIB. Saat itu korban, yang hanya disebut dengan inisial GH, tengah berolahraga pagi di sekitar rumahnya. Rekaman CCTV menunjukkan sebuah mobil mengikuti langkah korban sebelum seorang pria turun dan berusaha menyeretnya masuk ke dalam kendaraan.
Meski berusia lanjut, GH melakukan perlawanan sengit. Ia bergulat dengan pelaku hingga keduanya jatuh ke aspal, sambil berteriak meminta tolong. Teriakan itu diduga membuat pelaku panik dan akhirnya melarikan diri bersama rekannya yang menunggu di dalam mobil. “Pelaku mencoba menarik korban untuk memaksa masuk ke dalam mobil. Untungnya korban melakukan perlawanan sehingga pelaku tidak berhasil,” kata Sampson.
Dari rekaman CCTV, polisi menduga jumlah pelaku lebih dari dua orang. Satu orang bertugas sebagai pengemudi, sementara yang lain turun mengeksekusi. “Yang terlihat ada pengemudi dan satu pelaku yang turun dari mobil. Kemungkinan jumlahnya lebih dari dua orang,” jelas Sampson. Hingga kini motif penculikan masih didalami, dan korban mengaku tidak mengenali para pelaku serta tidak memiliki masalah pribadi dengan siapa pun.
Kasus ini menyoroti kerentanan lansia di kawasan hunian yang dianggap aman sekalipun. Pengamat keamanan perkotaan dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Rahman, menilai modus penculikan dengan sasaran lansia kerap terjadi karena dianggap lebih lemah secara fisik. “Pelaku biasanya mengincar korban yang sendirian di jam sepi. Keberanian korban melawan menjadi faktor kunci menggagalkan aksi,” ujarnya. Ia juga mengingatkan warga untuk meningkatkan sistem keamanan lingkungan, seperti memperketat akses keluar-masuk kendaraan dan memperbanyak pos ronda.
Bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di perkotaan, insiden ini menjadi alarm bahwa kejahatan bisa terjadi di mana saja. Polisi mengimbau warga untuk segera melapor jika melihat aktivitas mencurigakan. Sementara itu, keluarga korban berharap pelaku segera ditangkap agar tidak ada korban berikutnya. Pertanyaan yang masih menggantung: apakah jaringan penculikan ini terorganisir, atau sekadar aksi kriminal oportunistik?



