Gempa Sulteng: 847 Bangunan Rusak, Sigi Terparah
Baca dalam 60 detik
- BNPB mencatat 847 bangunan rusak akibat gempa M6,7 di Sulawesi Tengah, dengan Kabupaten Sigi sebagai wilayah terdampak paling parah.
- Gempa yang dipicu Sesar Sausu ini menewaskan satu orang dan melukai 76 jiwa, berbeda dengan mekanisme gempa likuifaksi 2018.
- Pemerintah mengimbau kewaspadaan terhadap gempa susulan, sementara tim reaksi cepat terus melakukan asesmen di lapangan.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6) pagi meninggalkan jejak kerusakan yang tidak sedikit. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya 847 unit bangunan—mulai dari rumah warga hingga fasilitas umum—mengalami kerusakan di 33 desa yang tersebar di lima kabupaten/kota. Angka ini menjadi perhatian serius karena sebagian besar kerusahan terkonsentrasi di Kabupaten Sigi, yang selama ini dikenal rawan bencana.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (17/6), mengungkapkan bahwa dampak gempa dirasakan di empat kabupaten dan satu kota, meliputi 10 kecamatan dan 33 desa. “Kabupaten Sigi menjadi yang paling parah dengan 30 desa terdampak,” ujarnya. Selain Sigi, wilayah yang turut merasakan guncangan adalah Kabupaten Poso, Donggala, Parigi Moutong, dan Kota Palu.
Berdasarkan data BNPB, gempa ini menyebabkan 1.834 kepala keluarga atau sekitar 5.784 jiwa terdampak. Sebagian besar dari mereka berada di Sigi, yakni 1.813 KK, sementara Parigi Moutong mencatat 21 KK. Korban jiwa dilaporkan satu orang meninggal dunia akibat serangan jantung, 73 orang luka ringan, dan tiga korban luka berat. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun magnitudonya cukup besar, tingkat fatalitas relatif rendah berkat respons cepat dan kewaspadaan masyarakat.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sulawesi Tengah, Andi Sembiring, merinci bahwa dari 847 bangunan yang rusak, sekitar 800 unit berada di Kabupaten Sigi. “720 rumah mengalami rusak ringan, 68 rusak sedang, dan 12 rusak berat. Selain itu, dua kantor, 15 sarana ibadah, dan satu jembatan penghubung Desa Kamarora B–Desa Tongoa ikut terdampak,” jelasnya. Kerusakan di Sigi menjadi sorotan karena wilayah ini memang berada di dekat pusat gempa.
BMKG mengonfirmasi bahwa gempa ini disebabkan oleh aktivitas Sesar Sausu, berbeda dengan gempa dahsyat tahun 2018 yang dipicu Sesar Palu-Koro dan disertai likuifaksi. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menjelaskan bahwa gempa kali ini tergolong dangkal dengan episenter di darat. “Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Sesar Sausu,” ujarnya dalam konferensi pers daring.
Tim Reaksi Cepat (TRC) dan Pusdalops BPBD Provinsi Sulawesi Tengah bersama jajaran BPBD kabupaten terkait telah melakukan asesmen dan koordinasi di lapangan. Andi Sembiring menambahkan bahwa frekuensi gempa susulan mulai menurun, namun masyarakat tetap diminta waspada. “Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan adanya gempa susulan,” katanya. Langkah ini penting mengingat sejarah gempa di Sulawesi Tengah yang kerap diikuti rangkaian guncangan.
Kejadian ini kembali mengingatkan bahwa Sulawesi Tengah berada di kawasan seismik aktif. Dengan kerusakan yang terbilang masif namun korban jiwa minim, evaluasi terhadap ketahanan bangunan dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi krusial. Apakah infrastruktur di daerah rawan gempa sudah cukup adaptif, atau perlu ada standar baru dalam konstruksi rumah tahan gempa? Pertanyaan ini layak menjadi bahan diskusi para pemangku kepentingan ke depan.



