ICC Yakin Piala Dunia T20 Wanita Mampu Bersanding dengan Piala Dunia Sepak Bola
Baca dalam 60 detik
- Penjualan tiket Piala Dunia T20 Wanita 2026 di Inggris mencapai rekor 220.000 sebelum turnamen dimulai, menunjukkan antusiasme publik yang tinggi.
- CEO ICC Sanjog Gupta menegaskan bahwa ajang kriket wanita tidak terpengaruh oleh dominasi Piala Dunia sepak bola pria di Amerika Utara.
- Turnamen ini diproyeksikan menjadi salah satu dari dua ajang olahraga wanita terbesar sepanjang sejarah, dengan target kehadiran 300.000 penonton.

Di tengah hingar-bingar Piala Dunia sepak bola pria 2026 yang digelar di Amerika Utara, International Cricket Council (ICC) justru optimistis bahwa Piala Dunia T20 Wanita yang baru bergulir di Inggris mampu menarik perhatian global. CEO ICC Sanjog Gupta menyatakan kedua ajang olahraga tersebut dapat berjalan beriringan tanpa saling mengganggu, didukung oleh data penjualan tiket yang menembus rekor.
Inggris membuka turnamen kriket putri edisi kedelapan ini dengan kemenangan telak 87 run atas Sri Lanka di Edgbaston, Jumat (13/6/2026), disaksikan 14.865 penonton. Angka ini menjadi sinyal awal bahwa animo publik terhadap kriket wanita terus meroket, meskipun harus bersaing dengan euforia sepak bola yang tengah memuncak di belahan dunia lain.
Gupta mengungkapkan bahwa penjualan tiket telah mencapai sekitar 220.000 lembar sebelum turnamen dimulaiโangka tertinggi sepanjang sejarah penyelenggaraan Piala Dunia T20 Wanita. "Kami benar-benar melihat ajang ini sebagai momen penting bagi olahraga ini. Saya pikir Piala Dunia bisa hidup berdampingan. Kami tidak melihat dampak apa pun terhadap penjualan tiket," ujarnya dalam konferensi pers di London.
Proyeksi kehadiran penonton selama tiga minggu turnamen diperkirakan menyentuh angka 300.000, asalkan cuaca mendukung. Jika tercapai, jumlah tersebut akan menjadikan Piala Dunia T20 Wanita 2026 sebagai salah satu dari dua ajang olahraga wanita terbesar sepanjang masa, sejajar dengan Piala Dunia Sepak Bola Wanita FIFA. "Ini tidak sedang bermain dalam bayang-bayang Piala Dunia FIFA pria," tegas Gupta.
Keberhasilan tim nasional wanita Inggris di sepak bola (Juara Eropa 2022) dan rugbi (Juara Dunia 2014, 2021) telah membuka jalan bagi olahraga putri di Negeri Ratu Elizabeth. Kini giliran kriket yang berusaha menapaki jejak serupa. Namun, tantangan terbesar adalah merebut perhatian publik di tengah dominasi berita Piala Dunia sepak bola yang melibatkan tim-tim papan atas dunia.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memberikan gambaran bahwa olahraga wanita mampu bersaing di panggung global meskipun menghadapi kompetisi dari ajang olahraga dominan. Federasi Kriket Indonesia (FKI) dapat menjadikan momentum ini sebagai referensi untuk mengembangkan kriket putri di Tanah Air, yang masih dalam tahap awal. Keberhasilan ICC dalam memasarkan turnamen di tengah hiruk-pikuk Piala Dunia sepak bola menunjukkan bahwa strategi promosi yang tepat dan basis penggemar yang loyal mampu mengatasi persaingan perhatian.
Gupta menambahkan bahwa pertumbuhan kriket wanita mengalami akselerasi luar biasa dalam beberapa tahun terakhir. "Kami telah menyaksikan percepatan pertumbuhan kriket wanita sedemikian rupa sehingga kini kami percaya ajang ini berpotensi menjadi salah satu dari dua ajang olahraga wanita terbesar yang pernah ada," katanya. Pernyataan ini menegaskan bahwa kriket wanita tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan telah menjadi entitas olahraga yang mandiri dan menguntungkan.
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah tren positif ini dapat berlanjut setelah turnamen usai, terutama dalam mempertahankan minat sponsor dan hak siar. Dengan rekor penjualan tiket dan proyeksi kehadiran yang optimistis, ICC sepertinya telah membuktikan bahwa kriket wanita mampu bersinar tanpa harus bersembunyi dari sorotan Piala Dunia sepak bola. Kini, semua mata tertuju pada cuaca dan konsistensi performa tim-tim peserta untuk mengukuhkan status turnamen ini sebagai tonggak sejarah olahraga wanita.



