Haiti di Piala Dunia 2026: Harapan di Tengah Kekacauan, Ketika Sepak Bola Jadi Pelipur Lara
Baca dalam 60 detik
- Timnas Haiti lolos ke Piala Dunia 2026 untuk kedua kalinya dalam sejarah, menjadi negara Karibia pertama yang mencapai prestasi itu, di tengah krisis keamanan dan kemanusiaan yang parah.
- Sebagian besar pemain Haiti lahir di luar negeri, dan pelatihnya belum pernah menginjakkan kaki di Haiti, namun semangat kebangsaan tetap membara, dengan harapan sepak bola bisa meredakan kekerasan geng.
- Pertandingan melawan Brasil di fase grup menjadi simbol perubahan: dari pendukung Brasil menjadi pendukung tim sendiri, dengan harapan gencatan senjata spontan seperti tahun 2004 bisa terulang.

Untuk kedua kalinya dalam sejarah, Haiti akan berlaga di Piala Dunia. Namun, di balik euforia itu, negara Karibia ini masih dilanda krisis keamanan dan kemanusiaan yang akut. Tim nasional yang sebagian besar pemainnya lahir di luar negeri ini menjadi simbol perlawanan dan harapan di tengah kekacauan.
Haiti tergabung di Grup C bersama Brasil, Skotlandia, dan Maroko. Ini adalah kali pertama sejak 1974 mereka tampil di turnamen sepak bola terbesar dunia. Namun, perjalanan menuju Amerika Serikat—tempat mereka akan memainkan pertandingan—tidaklah mudah. Pelatih Sebastien Migne belum pernah menginjakkan kaki di Haiti, dan 16 dari 26 pemain skuad lahir di luar negeri, tersebar di lima negara. Bahkan, bek Hannes Delcroix baru menjalin kontak dengan ibu kandungnya di Haiti beberapa tahun lalu setelah diadopsi keluarga Belgia saat balita.
Kondisi keamanan di Haiti sangat memprihatinkan. Menurut Amnesty International, 5.600 orang tewas akibat kekerasan geng sepanjang 2024. Tim nasional sudah lima tahun tidak bermain di kandang sendiri karena stadion utama, Stade Sylvio Cator, dikuasai geng. Pertandingan 'kandang' mereka digelar di Curacao, 500 mil dari Haiti. Bahkan, final liga domestik Violette AC—klub asal pemain lokal satu-satunya di skuad, Woodensky Pierre—tertunda karena tembakan senjata.
Namun, di tengah kegelapan, sepak bola menjadi secercah cahaya. Ketika Haiti lolos ke Piala Dunia pada 18 November 2024—hari yang sama dengan peringatan Pertempuran Vertieres, simbol perlawanan budak Haiti—para pemimpin geng justru ikut merayakan di jalanan. "Semua pemimpin geng adalah pencinta sepak bola," kata jurnalis Haiti Pierre Richard Midy. "Setelah kualifikasi, saya melihat video mereka merayakan seperti orang lain, dengan musik."
Pemain seperti Duckens Nazon, pencetak gol terbanyak sepanjang masa Haiti, berharap sepak bola bisa menjadi alat perdamaian. "Kami ingin menunjukkan kepada generasi baru bahwa ada cara lain keluar dari kesulitan, bukan dengan senjata atau narkoba," ujarnya. Nazon, yang lahir di Prancis dari orang tua Haiti, menjadi idola karena dedikasinya. Ia bahkan dijuluki "chuchu"—ungkapan sayang dalam bahasa Prancis—oleh para penggemar.
Kisah Woodensky Pierre, satu-satunya pemain yang bermain di liga domestik, menjadi inspirasi. Ia dibesarkan di kawasan kumuh Cite Soleil dan dipanggil timnas hanya berdasarkan video online. "Dia bermain dengan insting karena sejak kecil belajar bahwa keraguan bisa berakibat fatal," kata Midy. "Dia selalu bilang, 'Saya tidak hanya membawa bola, saya membawa harapan dari tempat saya berasal.'"
Bagi para penggemar di Haiti, menonton Piala Dunia adalah perjuangan tersendiri. Kelangkaan listrik kronis membuat warga harus berinovasi: menyewa generator, membuat zona penggemar sendiri, atau mengandalkan panel surya. Tahun ini, organisasi lokal membagikan paket berisi televisi dan sistem inverter tenaga surya. "Antusiasme mencapai level baru," kata Midy. "Di lingkungan padat penduduk, orang-orang berbagi listrik dan ruang tamu untuk menonton bersama."
Diaspora Haiti di Amerika Serikat, yang diperkirakan mencapai dua juta jiwa, menjadi pendukung utama. Pertandingan pemanasan melawan Peru di Miami pekan lalu disaksikan stadion penuh. Mereka berharap dukungan serupa di Boston, tempat Haiti akan melakoni laga perdana melawan Skotlandia. "Saya pikir kami semua belum benar-benar sadar," kata Nazon. "Momen itu akan tiba saat pertandingan pertama dimulai. 'Hei, kita di Piala Dunia sekarang!"
Namun, pertanyaan terbesar adalah: akankah sepak bola mampu menghentikan kekerasan, meski hanya sementara? Pada 2004, kedatangan Brasil untuk laga persahabatan berhasil menciptakan gencatan senjata dua hari. Nazon berharap keajaiban serupa terulang. "Kami ingin membawa semangat ini selamanya, bukan hanya untuk satu atau dua pertandingan," katanya. Akankah Piala Dunia 2026 menjadi titik balik bagi Haiti, atau hanya pelarian sesaat dari realitas pahit?



