World Cup 2026: Panduan Bertahan dari Malam Tanpa Tidur ala Pakar Tidur
Baca dalam 60 detik
- Jadwal pertandingan Piala Dunia 2026 yang dimulai dari pukul 17.00 hingga 05.00 dini hari memaksa penggemar untuk mengatur ulang pola tidur.
- Pakar menyarankan tiga strategi: mengadopsi zona waktu Amerika Utara, metode sandwich (tidur sebelum dan sesudah pertandingan), atau metode squeeze (tidur singkat setelah laga).
- Kafein sebaiknya dikonsumsi delapan jam sebelum waktu tidur yang direncanakan, dan tidur siang 20-30 menit dapat membantu memulihkan energi tanpa mengganggu ritme sirkadian.

Piala Dunia 2026 akan menyajikan 104 pertandingan dengan jadwal kick-off yang membentang dari sore hingga subuh—sebuah tantangan berat bagi penggemar sepak bola yang harus tetap produktif keesokan harinya. Pakar tidur dari Universitas Oxford, Profesor Russell Foster, menyebut jadwal ini "dirancang sempurna untuk mengacaukan" pola istirahat, karena euforia pertandingan membuat otak sulit tenang begitu peluit panjang berbunyi.
Bagi penggemar di Indonesia, perbedaan waktu dengan tuan rumah (AS, Meksiko, Kanada) membuat sebagian besar laga berlangsung pada malam hingga dini hari. Pertandingan fase grup dimulai pukul 17.00, 18.00, 20.00, 21.00, 22.00, 23.00, 00.00, 00.30, 01.00, 02.00, 03.00, 04.00, dan 05.00 waktu setempat—yang berarti di Indonesia bisa lebih awal atau lebih larut tergantung zona waktu. Tanpa strategi yang tepat, kurang tidur dapat mengganggu konsentrasi, suasana hati, bahkan keselamatan berkendara.
Dr. Victoria Revell dari Universitas Surrey memaparkan tiga pendekatan utama. Pertama, metode "full American": menggeser jadwal tidur sepenuhnya ke zona waktu Amerika Utara selama turnamen berlangsung. Cara ini membutuhkan beberapa hari adaptasi dan membuat penggemar hampir sepenuhnya nokturnal, tetapi memungkinkan menonton semua pertandingan tanpa gangguan. Kedua, metode "sandwich"—tidur sebelum dan sesudah laga dengan jeda untuk menonton. Risikonya adalah rasa grogi saat bangun, meski adrenalin pertandingan bisa mengatasinya. Ketiga, metode "squeeze": begadang penuh lalu tidur beberapa jam sebelum beraktivitas. Cara ini paling sederhana, namun memangkas waktu tidur secara drastis dan berdampak pada performa harian.
Konsumsi kafein menjadi pedang bermata dua. Minuman berkafein membantu melawan kantuk setelah pertandingan, tetapi efek stimulannya bertahan lama. Revell menyarankan kopi terakhir diminum delapan jam sebelum waktu tidur agar tidak mengganggu istirahat. Sementara itu, alkohol—meski terasa menenangkan—justru menurunkan kualitas tidur. "Kurang tidur yang diperparah alkohol adalah resep buruk untuk berfungsi keesokan hari," tegas Foster. Dampaknya meliputi perubahan suasana hati, kecemasan tinggi, penurunan empati, serta risiko pengambilan keputusan impulsif yang berbahaya, terutama jika harus mengemudi.
Bagi orang tua, tantangan berbeda muncul. Anak kecil sebaiknya tidak dibangunkan untuk menonton, sementara remaja boleh begadang asalkan bisa bangun pagi. Foster mengungkapkan bahwa seperempat remaja sudah mengalami defisit tidur, dan Piala Dunia bisa memperburuk situasi. Alternatifnya, merekam pertandingan dan menonton ulang di pagi hari sebelum sekolah—meski tidak sepopuler menonton langsung—dianggap sebagai strategi cerdas untuk menjaga ritme tidur. "Itu adalah strategi yang brilian untuk mempertahankan tidur dan kemampuan berfungsi," ujar Foster.
Dengan persiapan yang matang, penggemar sepak bola Indonesia tetap bisa menikmati Piala Dunia 2026 tanpa mengorbankan kesehatan dan produktivitas. Pertanyaan besarnya: akankah para penggemar rela mengubah kebiasaan tidur demi 104 pertandingan, atau justru memilih selektif menonton laga favorit?
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5342105/original/095172500_1757384898-Timnas_Indonesia_vs_Lebanon_-23.jpg)

